RADARBEKASI.ID, BEKASI – Suara gemuruh air Kali Bekasi kini terdengar seperti lonceng peringatan bagi warga Kampung Kompa, RT 03 RW 06, Desa Karangsatria, Tambun Utara.
Musim hujan tahun ini tak sekadar membawa limpahan air, tetapi juga menggerus ruang hidup warga yang bermukim di bantaran sungai. Erosi yang kian mengganas mengubah peta permukiman. Daratan yang dulu kokoh perlahan “ditelan” arus Kali Bekasi.
Ironisnya, sebagian warga memiliki Sertipikat Hak Milik (SHM), namun tanah yang tertera di dokumen itu kini telah berubah menjadi aliran sungai.
BACA JUGA: Normalisasi Kali Bekasi Belum Menyentuh Wilayah Utara, Warga Dalam Bahaya
Salahsatu warga terdampak, Hostoba Nairo Aritonang (63), hanya bisa menatap bagian belakang rumahnya yang kini tanpa tembok dan langsung berhadapan dengan Kali Bekasi. Ruang yang dahulu menjadi tempat berkumpul keluarga kini tinggal kenangan. Dapur, kamar mandi, hingga dua kamar tidur miliknya lenyap tak bersisa.
TERDAMPAK: Hostoba Nairo Aritonang berada di rumahnya yang terdampak longsor akibat erosi Kali Bekasi Kampung Kompa, RT 03 RW 06, Desa Karangsatria, Tambun Utara, Minggu (1/2). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI
“Istri sudah saya ungsikan ke tempat neneknya. Kalau malam saya tidak pernah tidur karena harus jagain anak yang masih kelas V SD,” ucap Hostoba kepada Radar Bekasi di Tambun Utara, Minggu (1/2).
Hostoba menceritakan detik-detik mencekam saat erosi yang memicu longsor mulai merenggut rumahnya. Kamis (29/1) siang, ia tengah beristirahat di rumah sebelum berangkat kerja malam. Teriakan warga mendadak membangunkannya.
BACA JUGA: Kali Bekasi Terus ‘Melahap’ Tanah Warga
“Kejadian siang, saya lagi di rumah karena kerja malam. Panik, takut. Saya langsung keluar rumah, pohon itu udah miring. Lalu semua warga udah keluar dari rumah,” katanya.
Menurut Hostoba, longsor yang membawa tumbangnya satu pohon besar itu dipicu kenaikan debit air Kali Bekasi secara drastis dalam waktu singkat. Arus deras menghantam dinding tanah di sisi rumahnya hingga tak mampu lagi menahan tekanan air.
“Kejadian awalnya debit air Kali Bekasi waktu itu tinggi banget. Kayak mau penuh begitu, jadi airnya deras dari sebelumnya kecil. Ya, lama-lama pohon itu turun, ke bawa air,” terang Hostoba.
Meski rumahnya kini berada dalam kondisi kritis dan tak lagi memiliki sanitasi, Hostoba memilih bertahan. Ia menempati satu-satunya ruangan tersisa yang sebelumnya berfungsi sebagai ruang tamu, kini disulap menjadi kamar tidur beralas kasur. Di ruangan itu, ia beristirahat bersama dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
BACA JUGA: Penarik Perahu Eretan Hilang Tenggelam di Kali Bekasi
Rasa khawatir kerap menghantui setiap malam, namun keterbatasan ekonomi membuatnya enggan pindah. Rumah tersebut merupakan satu-satunya harta yang bisa ia tinggalkan untuk masa depan anak-anaknya.
“Hancur, udah beberapa kali longsor. Sekarang semua sudah tidak ada, dapur, kamar tidur, kamar mandi. Tinggal satu ruang tamu ini yang saya jadikan kamar tidur,” katanya.
Sementara itu, Ketua RT 03 RW 06 Kampung Kompa, Murdani, menyebut ada enam rumah terdampak longsor akibat pengikisan tanah di wilayahnya. Ia menyebut kejadian kali ini sebagai yang terparah karena struktur tanah telah terkikis hingga lapisan cadas.
“Dulu itu jarak dari rumah ke bantaran Kali Bekasi ini sekitar 13 meter. Kalinya sendiri lebarnya 55 meter. Jadi rumah ini sebenarnya jauh sekali dari air. Dulu tanahnya berbukit-bukit, tapi habis karena dikikis terus oleh Kali Bekasi,” terang Murdani.
Murdani menjelaskan, peristiwa diawali tumbangnya pohon-pohon besar di bantaran sungai akibat derasnya arus. Setelah debit air surut, tanah yang tersisa langsung ambles.
“Pohon tumbang dulu karena debit air kan deras. Setelah agak mengering, langsung ambles itu tanahnya. Karena tanah dasarnya cadas, langsung sekaligus tumbang. Kejadiannya bertahap dari satu titik, lalu merembet ke titik lainnya,” jelasnya.
Sebagai ketua lingkungan, Murdani menyampaikan harapan sekaligus kritik kepada pemerintah. Menurutnya, keselamatan warga tak cukup dijamin dengan bantuan logistik sementara.
“Alhamdulillah untuk masyarakat saya aman, tidak ada korban jiwa, orangnya tidak ketiban rumah. Tapi saya mengimbau kepada para pimpinan di atas, tolong pantau langsung ke lokasi,” ujarnya.
“Jangan hanya tiba membawa bantuan sebatas mi instan dan telur saja. Kami berterima kasih untuk itu, tapi yang lebih kami butuhkan adalah penanganan permanen,” tegas Murdani.
Warga bantaran Kali Bekasi berharap pemerintah segera membangun turap atau tanggul permanen untuk menghentikan pengikisan tanah. Tanpa langkah konkret, mereka hanya bisa menunggu giliran saat sisa lantai rumah ikut amblas ke dasar Kali Bekasi. (ris)

2 days ago
20
















































