Ekonomi Masih Jadi “Biang Kerok” Rumah Tangga Retak, PA Cikarang Catat 515 Perkara Perceraian

3 hours ago 11

Beranda Berita Utama Ekonomi Masih Jadi "Biang Kerok" Rumah Tangga Retak, PA Cikarang Catat 515 Perkara Perceraian

DAFTAR CERAI: Warga mendaftarkan gugatan cerai di PA Cikarang, Selasa (3/2). FOTO: ANDI MARDANI/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Masalah ekonomi masih menjadi “biang kerok” rumah tangga retak. Pengadilan Agama (PA) Cikarang mencatat hingga 2 Februari 2026 telah menerima 515 perkara perceraian, terdiri dari 350 cerai gugat dan 165 cerai talak.

Humas PA Cikarang, Tirmidzi, menjelaskan mayoritas perceraian yang diajukan istri masih disebabkan oleh persoalan ekonomi.

“Kebanyakan suami digugat istri dengan alasan faktor ekonomi dan tidak memberi nafkah,” kata Humas Pengadilan Agama Cikarang, Tirmidzi, Selasa (3/2).

Selain itu, Tirmidzi menambahkan, masalah ekonomi dalam rumah tangga kerap diperparah oleh kebiasaan bermain judi online.

“Memang faktor nafkah. Namun penyebab main judi online ini yang membuat kebanyakan rumah tangga ada masalah ekonomi,” kata Tirmidzi.

Tren perceraian akibat gugatan istri mengalami peningkatan sejak 2025. Dari total 4.508 perkara perceraian yang tercatat tahun lalu, 3.368 di antaranya merupakan cerai gugat, sementara 1.140 cerai talak.

“Perbandingan angkanya jauh. Lebih banyak di Kabupaten Bekasi istri yang menggugat cerai suami dari suami yang menalak istri,” ungkapnya.

Selain faktor ekonomi, perselisihan keluarga dan kekerasan dalam rumah tangga juga menjadi penyebab perceraian.

“Ada beberapa penyebab juga. Contoh karena faktor keluarga, KDRT. Tapi yang mendominan faktor ekonomi,” jelasnya.

Sementara, Rani (32) duduk di bangku antrian Pelayanan Terpadu Pengadilan Agama Cikarang dengan raut wajah campur aduk antara lelah dan tegas.

Ia berencana mendaftarkan gugatan cerai terhadap suaminya setelah rumah tangga yang dibina sejak 2021 mulai retak akibat masalah ekonomi.

“Awal berjalannya rumah tangga alhamdulillah baik. Tapi sejak 2024 sudah mulai jarang kasih nafkah. Lalu ada orang datang ke rumah nagih utang yang saya gak tahu keperluan utang itu untuk apa,” kata Rani saat menunggu di tempat antrian pelayanan.

Keputusan berpisah bukanlah keinginan Rani. Ia mengaku selalu berusaha mempertahankan rumah tangga demi anaknya. Namun, perselisihan yang terus berulang membuatnya takut kondisi mental buah hatinya terganggu.

“Keputusan ini sangat berat. Sudah ada pertemuan keluarga, tapi pasangan saya tetap tidak berubah. Akhirnya, saya mengambil keputusan untuk berpisah,” katanya. (and)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |