RADARBEKASI.ID, BEKASI – Banjir yang berulang kali menenggelamkan sebagian wilayah di Kabupaten Bekasi bukan lagi sekadar persoalan hujan atau luapan sungai. Ia adalah akumulasi dari salah urus yang dibiarkan bertahun-tahun, alih fungsi lahan tanpa kendali, tata ruang yang diabaikan, serta tanggul rapuh yang terus ditambal darurat. Di Muaragembong, kesalahan itu kini dibayar mahal oleh warga yang hidup dalam kecemasan, menunggu air datang kapan saja.
Ya,hidup di Kecamatan Muaragembong hari-hari ini seperti berjalan di atas garis rapuh. Air bisa datang kapan saja, siang atau malam, dengan atau tanpa aba-aba. Bagi warga di pesisir Kabupaten Bekasi itu, banjir bukan lagi peristiwa luar biasa, melainkan rutinitas yang menggerus rasa aman sedikit demi sedikit.
Sejak berhari-hari terakhir, banjir merendam permukiman warga di berbagai wilayah Bekasi. Hingga awal Februari ini, puluhan ribu Kepala Keluarga terdampak, ribuan lainnya terpaksa mengungsi. Hujan berintensitas sedang hingga lebat diperkirakan masih mengguyur wilayah ini pada awal bulan, menambah daftar kekhawatiran yang belum juga selesai.
Di Kecamatan Muaragembong, kecemasan itu terasa lebih dekat. Tanggul Sungai Citarum menjadi satu-satunya benteng yang selama ini melindungi permukiman warga dalam kondisi kritis. Akhir pekan lalu, Sabtu (31/1), tanggul kembali jebol. Air meluap, masuk ke rumah-rumah di Desa Pantaibakti dan Pantaibahagia. Warga panik, bergegas menyelamatkan diri dan barang seadanya.
“Kita khawatir kalau jebolnya malam, banyak anak-anak lagi tidur,” ujar Idris (55), warga Kampung Kedung Sinde, Desa Pantaibakti. Nada suaranya datar, namun menyimpan kecemasan panjang yang tak pernah benar-benar hilang.
Jebolnya tanggul bukan kejadian baru. Tapi setiap kali itu terjadi, kepanikan selalu sama. Malam-malam tanpa tidur, telinga awas mendengar suara air, mata waspada memantau tinggi sungai. Cuaca yang sulit ditebak dan ancaman banjir rob membuat warga hidup dalam siaga terus-menerus.
Meski kini Tinggi Muka Air (TMA) Sungai Citarum mulai surut dan genangan perlahan menghilang, rasa aman tak serta-merta kembali. Tanggul yang rusak dan amblas sepanjang kurang lebih 45 meter masih berdiri seadanya. Rapuh, menunggu waktu.
“Setiap hujan besar pasti siap-siap. Siap-siap mengungsi, siap-siap selamatkan barang,” kata Idris lagi. Kalimat itu seperti mantra yang dihafal warga Muaragembong: pendek, berulang, dan penuh kepasrahan.
Warga tak tinggal diam. Bersama-sama mereka melakukan perbaikan darurat, memanfaatkan material bantuan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum. Bronjong dan geobag dipasang, ditumpuk, diperkuat sebisanya. Tapi semua tahu, itu bukan solusi. Itu hanya penundaan.
Camat Muaragembong, Sukarmawan, mengakui kondisi tanggul di wilayahnya sudah lama memprihatinkan. Sejak satu hingga dua tahun lalu, laporan demi laporan telah ia sampaikan ke BBWS Citarum dan Pemerintah Kabupaten Bekasi.
“Tanggul di Muara Gembong itu memang sudah lama saya laporkan kondisinya kritis,” katanya. Banyak bagian tanggul amblas, tak lagi layak menahan derasnya aliran Sungai Citarum terutama saat debit air kiriman dari hulu meningkat bersamaan dengan banjir rob.
“Di situ yang membuat tanggul-tanggul sementara dengan bronjong dan geobag tidak mampu menahan,” ujarnya.
Sukarmawan menilai, penanganan parsial justru memperparah keadaan. Lima titik tanggul kritis yang dilaporkan, semuanya jebol. Bahkan muncul titik-titik baru. Ia menekankan perlunya kerja bersama yang komprehensif bukan tambal sulam yang selalu datang terlambat.
“Ini tidak bisa nunggu jebol dulu baru ditangani. Dalam kondisi seperti itu, hasilnya pasti tidak maksimal,” tegasnya.
Ancaman banjir di Muaragembong tak hanya datang dari Sungai Citarum. Sungai Ciherang yang mengalami pendangkalan juga mempersempit daya tampung air. Normalisasi sungai di bawah kewenangan pemerintah pusat dinilai mendesak agar wilayah ini tidak terus menjadi langganan banjir.
Di tengah situasi sulit itu, Sukarmawan mengapresiasi respons cepat BPBD Kabupaten Bekasi. Bantuan dari Pemkab Bekasi, BAZNAS, hingga pihak swasta telah mengalir. Genangan di halaman kantor kecamatan mulai surut. TMA Sungai Citarum pun menunjukkan penurunan.
Namun harapan warga lebih besar dari sekadar bantuan darurat. Mereka ingin kepastian. Mereka ingin tidur nyenyak.
“Saya berharap BBWS ke depan bukan lagi perbaikan sementara, tapi permanen, dengan teknologi dan material yang memadai,” kata Sukarmawan. “Supaya warga kami bisa tidur tanpa rasa takut.”
Banjir tak hanya merendam rumah, tetapi juga kesabaran warga Bekasi. Dalam beberapa pekan terakhir, protes bermunculan. Warga di Cikarang Utara mendemo pengembang perumahan, menuntut perbaikan drainase, penambahan pompa air, dan optimalisasi fungsi danau.
Di Kebon Kopi, warga menutup akses jalan karena kerusakan tak kunjung diperbaiki dan banjir yang terus berulang. Di Babelan, warga menggeruduk pengembang karena rumah terendam dua pekan penuh janji bebas banjir tinggal slogan.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, merespons kritik publik dengan mengakui adanya kesalahan tata kelola di masa lalu. Alih fungsi sawah, rawa, dan situ menjadi kawasan perumahan disebut sebagai salah satu biang keladi banjir Bekasi. Ia mengklaim telah menerbitkan surat edaran untuk menghentikan pembangunan di area terlarang dan mendorong perubahan tata ruang.
Langkah lain yang disiapkan adalah percepatan pembangunan Bendungan Cibeet, yang diproyeksikan selesai pada 2028. Bendungan ini digadang-gadang menjadi solusi pengendalian banjir Bekasi. Dedi juga meminta BBWS memperkuat tanggul agar tak mudah jebol.
“Saya juga sudah meminta kepala BBWS untuk memperkuat tanggul-tanggul, sehingga tidak mudah untuk jebol,” ucapnya.
Namun bagi warga Muaragembong, waktu berjalan lebih cepat dari janji. Hujan masih akan turun, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini hingga 5 Februari. Air bisa datang kapan saja.
Di kampung-kampung pesisir itu, hidup tetap berjalan di bawah bayang-bayang tanggul rapuh. Dan selama tanggul permanen hanya sebatas wacana, hidup tenang masih menjadi kemewahan yang belum mereka miliki.(sur)

1 day ago
18
















































