Beranda Cikarang Jembatan CBL Butuh Perhatian, Belum Pernah Direhabilitasi Sejak 1980-an
MENDESAK DIPERBAIKI: Pengendara melintasi jembatan di atas sungai CBL yang menjadi penghubung wilayah Cikarang Barat dengan Cibitung, Rabu (1/7). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI
RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kondisi Jembatan Cikarang Bekasi Laut (CBL) kian memprihatinkan. Jembatan yang menghubungkan Desa Kalijaya Kecamatan Cikarang Barat dan Desa Sukajaya Kecamatan Cibitung itu belum pernah mendapatkan rehabilitasi menyeluruh sejak dibangun pada sekitar 1980-an.
Berdasarkan pantauan, sejumlah bagian jembatan mulai mengalami kerusakan. Pagar pembatas (railing) berbahan besi tampak keropos akibat karat, bahkan sebagian telah patah dan hilang. Di sisi lain, permukaan aspal di atas jembatan juga mengalami penurunan kualitas. Kondisi tersebut dinilai membahayakan keselamatan masyarakat, terutama pengendara yang setiap hari melintasi jalur tersebut.
Salahsatu warga Kampung Wangkal Jati, Bobi Benuaji (54), mengatakan jembatan tersebut sudah sangat mendesak untuk diperbaiki. Menurutnya, usia jembatan yang telah puluhan tahun membuat kondisinya semakin mengkhawatirkan, terlebih saat dilintasi kendaraan bertonase besar.
“Jembatan CBL perlu perhatian karena dibangun sekitar 1980-an sampe sekarang belum ada perbaikan,” kata Bobi, Rabu, (1/07).
Menurut Bobi, struktur jembatan yang sudah berusia puluhan tahun dinilai tidak lagi ideal menampung tingginya volume kendaraan, khususnya truk bermuatan berat. Beban jembatan semakin besar karena lokasinya berada di persimpangan yang menjadi jalur utama menuju pusat Cikarang maupun kawasan permukiman di wilayah utara Kabupaten Bekasi.
Selain itu, tingginya mobilitas kendaraan juga menyebabkan kemacetan pada jam berangkat dan pulang kerja.
“Jembatan ini memang sudah saatnya diganti karena kondisinya sudah berkarat. Perumahan di wilayah Sukajaya juga terus bertambah sehingga jumlah masyarakat semakin banyak. Sangat mengkhawatirkan kalau tidak segera diperbaiki karena jembatan ini sudah tua,” ujarnya.
Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan saat musim hujan. Kerusakan lantai jembatan membuat air merembes ke bagian bawah sehingga mempercepat kerusakan struktur. Selama ini, kata Bobi, warga hanya melakukan penambalan secara swadaya agar jalan tetap bisa dilalui.
Ia juga menilai kemacetan yang kerap terjadi di lokasi tidak hanya disebabkan penyempitan jalan di atas jembatan, tetapi juga keberadaan bangunan liar di sekitar persimpangan.
“Kalau hujan air turun ke badan jembatan, sebabnya udah pada bolong. Sama warga cuma ditambel ajam emang kudu direhab,” kata Bobi.
Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Bekasi, Budi Yanto, meminta Pemerintah Kabupaten Bekasi tidak tinggal diam. Meski secara administratif kewenangan jembatan tersebut berada di pemerintah pusat, menurutnya Pemkab Bekasi tetap perlu mengambil langkah proaktif agar perbaikan segera direalisasikan.
“Kita melihat beberapa tahun terakhir pemda fokus melaksanakan pembangunan jalan sepanjang aliran kali CBL saja, mengabaikan kondisi jembatan yang juga butuh perhatian khusus,” tegas Budi.
Wakil rakyat dari Daerah Pemilihan II (Cibitung–Cikarang Barat) itu juga menyoroti ketimpangan pembangunan di kawasan tersebut. Menurutnya, proyek Bendung BSH yang berada tepat di dekat lokasi telah rampung, namun tidak dibarengi dengan rehabilitasi Jembatan CBL.
Padahal, jembatan tersebut merupakan jalur alternatif utama bagi masyarakat dari Tambun Utara, Babelan, dan Sukawangi menuju pusat pemerintahan Kabupaten Bekasi maupun kawasan industri di Cikarang.
“Warga Tambun Utara, Babelan, Sukawangi kalau mau ke Cikarang atau ke Pemkab Bekasi lewat jalan alternatif ini. Ke depan kalau jembatan bisa dilaksanakan perbaikan menambah estetika tata ruang kan berhadapan langsung sama bendungan Cikarang,” tutupnya. (ris)

15 hours ago
12

















































