PSY Resmi Diperiksa Jaksa Terkait Dugaan Pelanggaran Obat Psikotropika

15 hours ago 17

Beranda Lifestyle Hiburan PSY Resmi Diperiksa Jaksa Terkait Dugaan Pelanggaran Obat Psikotropika

PSY Diperiksa Polisi Soal Obat Psikotropika. Foto: Soompi

RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Kasus yang menimpa musisi asal Korea Selatan PSY kini resmi memasuki tahap penuntutan setelah berkas perkaranya diserahkan kepada jaksa terkait dugaan pelanggaran penggunaan obat-obatan psikotropika.

Menurut laporan kepolisian pada Selasa (2/6), PSY diduga memperoleh obat psikotropika melalui resep dokter tanpa menjalani pemeriksaan langsung di rumah sakit. Obat tersebut didapatkan melalui perantara pihak ketiga, termasuk manajer dan beberapa orang lainnya, sebagaimana dikutip dari Korea Times.

PSY disebut menerima resep obat psikotropika jenis Xanax dan Stilnox dari sebuah rumah sakit universitas di Seoul. Namun, proses pengobatan tersebut diduga tidak dilakukan melalui konsultasi tatap muka dengan dokter. Praktik ini disebut berlangsung dalam periode 2022 hingga 2025.

Penyanyi dengan nama asli Park Jae-sang itu diduga memperoleh obat-obatan tersebut tanpa prosedur medis langsung, di mana pengambilan obat dilakukan oleh pihak lain atas namanya. Hal ini kemudian menjadi sorotan aparat penegak hukum di Korea Selatan.

Baca Juga: Joy Red Velvet dan Kim Hyun Jin Pamer Chemistry Manis di Poster Terbaru Drama ‘One of a Kind Romance’

Kantor Polisi Seoul Seodaemun menyatakan bahwa mereka telah menyerahkan berkas perkara yang melibatkan total enam orang, termasuk PSY, manajernya, serta dokter yang diduga meresepkan obat tersebut. Berkas tersebut resmi diserahkan kepada kejaksaan pada Jumat (29/5) atas dugaan pelanggaran hukum kedokteran.

Berdasarkan undang-undang yang berlaku di Korea Selatan, pengambilan obat resep melalui perwakilan tanpa konsultasi langsung dengan dokter tidak diperbolehkan. Aturan ini diterapkan terutama untuk obat-obatan psikotropika yang memiliki risiko ketergantungan tinggi.

Xanax dan Stilnox sendiri dikenal sebagai obat yang digunakan untuk menangani gangguan kecemasan, gangguan tidur, hingga depresi. Karena potensi ketergantungan yang tinggi, prosedur ketat berupa pemeriksaan langsung oleh dokter menjadi standar dalam pemberiannya.

Hingga kini, proses hukum terkait kasus tersebut masih terus berjalan di kejaksaan untuk menentukan langkah selanjutnya terhadap pihak-pihak yang terlibat. (mna)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |