Alunan “Buah Ngora” Jadi Tembang Terakhir Sebelum Petaka Rombingan Sisingaan di Cikarang

6 hours ago 8

Beranda Berita Utama Alunan “Buah Ngora” Jadi Tembang Terakhir Sebelum Petaka Rombingan Sisingaan di Cikarang

Suharim (65), peniup terompet senior “Alan Group Dewa Tarompet" saat ditemui di Polsek Cikarang Utara, Rabu (3/6). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Alunan lagu tradisional “Buah Ngora” pengiring jaipongan menjadi tembang terakhir sebelum petaka sengatan listrik menimpa rombongan kesenian Sisingaan “Alan Group Dewa Tarompet” asal Subang. Peristiwa itu terjadi saat rombongan melintas di Kampung Cibeureum RT 03 RW 03, Desa Kertamukti, Kecamatan Cikarang Utara, Selasa (2/6). Tiga orang dilaporkan tewas, sementara dua lainnya selamat meski mengalami luka bakar dan masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Korban meninggal diketahui bernama Galang (18), Juhan (20), serta satu korban lain yang belum teridentifikasi. Adapun korban selamat ialah Rizal (18) dan Rizki (22).

Suharim (65), peniup terompet senior “Alan Group Dewa Tarompet”, mengaku selamat setelah mundur beberapa langkah sesaat sebelum kejadian. Pria yang telah menjadi pemain musik Sisingaan sejak usia 18 tahun itu mengatakan dirinya berpindah posisi karena harus mendekat ke mikrofon saat meniup terompet.

“Waktu kejadian pas lagu Buah Ngora, sinden lagi nyanyi, saya mundur karena kalau niup terompet harus dekat mik. Alhamdulillah saya selamat, kalau gak mundur, saya bisa kena setrum,” ucap Suharim kepada Radar Bekasi di Kantor Polsek Cikarang Utara, Rabu (3/6).

Pria yang selama 20 tahun bergabung dengan kelompok kesenian di Sukatani itu mengatakan rombongannya tidak mengetahui kondisi jalur yang dilalui. Sebagai pekerja seni, pihaknya hanya mengikuti rute yang ditentukan pihak penyelenggara.

“Kita pemain tahunya cuma ngikutin rute dari yang punya hajat. Yang menentukan rute itu yang ngawal hansip. Biasanya di tempat hajat lain dikasih tahu ada central (kabel utama), tapi yang di Cikarang gak dikasih tahu,” tambahnya.

Nahas, kendaraan pembawa sound system setinggi sekitar 15 meter diduga menyentuh kabel listrik milik PLN yang melintang di jalan. Suharim menilai posisi kabel di lokasi terlalu rendah.

“Tinggi sound ada sekitar 15 meteran. Saya lihat kabel terlalu pendek. Gak ada yang bilangin juga ada kabel di sana. Biasanya kabel dipegang juga gak kenapa-kenapa,” kata Suharim.

Ia mengatakan para korban merupakan tetangga satu rombongan. Rasa cemas juga melanda keluarga mereka di rumah. Anak perempuannya bersama dua cucu telah menunggunya pulang.

“Di rumah udah pada nungguin saya pulang. Anak cucu pada nangis takut saya kenapa-kenapa. Semua yang di sini udah pada gelisah. Harapannya mah pimpinan aja yang hadir di Polsek, jangan semua pemain ditahan di sini,” katanya.

Seusai kejadian, sekitar 80 orang yang terdiri dari pemain musik, pemikul sisingaan, sinden, hingga kru sound system diamankan ke Polsek Cikarang Utara bersama lima kendaraan rombongan sejak pukul 18.00 WIB.

“Semalam gak ada yang kasih makan, beli sendiri. Tidurnya kita ngampar aja di saung Polsek di musala, banyak nyamuk,” keluh Suharim.

Insiden itu menjadi pukulan bagi puluhan kepala keluarga yang menggantungkan hidup dari Alan Group. Kesenian sisingaan merupakan satu-satunya sumber penghasilan mereka sehari-hari. Suharim mengaku menerima upah Rp300 ribu dalam sekali tampil, sedangkan tarif tanggapan satu grup penuh mencapai Rp17 juta.

“Sekali main saya Rp 300 ribu sehari. Kalau alat masih ditahan bagaimana kita tampil buat cari rezeki, belum buat benerin alat, kayaknya rusak juga alat ini,” terang Suharim.

Padahal, setelah tampil di Cikarang, rombongan berencana beristirahat selama tiga hari sebelum kembali manggung di Subang pada 6-8 Juni dan berlanjut ke Bandung pada 9 Juni 2029. Namun agenda itu terancam batal karena peralatan mereka rusak dan masih diamankan petugas.

“Kalau alat masih ditahan bagaimana kita tampil buat cari rezeki. Belum buat benerin alat, kayaknya rusak juga alat ini,” pungkasnya.

Hingga sore kemarin, rombongan yang menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Kantor Polsek Cikarang Utara mulai dipulangkan. Satu mobil rombongan berisi sekitar 10 orang terlihat meninggalkan Mapolsek. (ris)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |