Beranda Internasional Jeffrey Epstein Diduga Aset Intelijen, Mantan Agen CIA Ungkap Bocorannya
Jeffrey Epstein, figur kontroversial yang menurut mantan agen CIA diduga berfungsi sebagai aset intelijen asing dengan akses luas ke elite politik dan bisnis global. Foto: The News Pakistan.
RADARBEKASI.ID, AMERIKA SERIKAT – Kontroversi seputar Jeffrey Epstein yang telah lama beredar dalam dokumen-dokumen besar yang dikenal sebagai Epstein Files kembali mendapatkan sorotan global setelah pernyataan mantan agen CIA sekaligus pelapor pelanggaran (whistleblower) John Kiriakou.
Dalam wawancara kepada kanal YouTube Diary of a CEO, Kiriakou menyampaikan pandangannya, kehidupan dan jaringan luas Epstein bukan sekadar akibat kekayaan, tetapi kemungkinan berakar pada perannya sebagai “access agent” atau aset intelijen asing yang menyediakan akses strategis kepada layanan intelijen untuk mendekati figur berpengaruh di panggung dunia.
Menurut Kiriakou, yang pernah bertugas di Central Intelligence Agency (CIA) selama bertahun-tahun, strategi agen intelijen modern sering menggunakan perantara untuk menjalin hubungan dengan individu yang secara langsung tidak bisa direkrut oleh badan intelijen itu sendiri.
“Anda tidak merekrut seorang mantan presiden atau miliarder teknologi. Anda merekrut seseorang yang secara teratur memiliki akses kepada mereka dan membuat orang-orang itu merasa nyaman dan dihargai,” ujarnya menjelaskan karakter operasi seperti itu.
BACA JUGA: Berkas Epstein Guncang Nama Besar Elite Global, Begini Jawaban Bill Gates dan Elon Musk
Dilansir dari The News Pakistan, Rabu (4/2/2026), Kiriakou menilai kekayaan luar biasa, properti mewah, dan gaya hidup Epstein yang flamboyan sangat konsisten dengan apa yang digambarkan dalam taktik intelijen tersebut. Dia juga menyoroti laporan media yang menyebut bahwa rumah pribadi Epstein di Kepulauan Virgin Amerika Serikat dipasangi kamera tersembunyi di setiap sudut hingga di kamar mandi, yang bisa dimanfaatkan untuk mengumpulkan bukti yang memberatkan guna kepentingan pemerasan terhadap para tamu berpengaruh.Kiriakou menekankan bahwa pernyataannya ini merupakan penilaian berdasarkan pengalaman dan bukan bukti langsung. Namun, ia mempertanyakan mengapa kesepakatan pembelaan pada tahun 2006 terhadap Epstein, dalam kasus kejahatan seksual terhadap anak di Florida, justru sangat ringan dibandingkan pedoman hukuman minimal yang lazim.
Kesepakatan itu membuat Epstein hanya menjalani masa tahanan rumah yang singkat, suatu hasil yang menurut Kiriakou tampak “tidak biasa” untuk terdakwa dengan tuduhan serius seperti itu.
Kiriakou juga merujuk pada Alexander Acosta, jaksa yang menangani kasus Epstein yang kemudian menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja Amerika Serikat. Berdasarkan laporan media, Acosta pernah mengakui bahwa ia diarahkan oleh pihak yang lebih tinggi untuk menawarkan kesepakatan hukum yang sangat ringan kepada Epstein. Menanggapi hal itu, Kiriakou menilai bahwa fakta tersebut membuka kemungkinan adanya tekanan politik di tingkat senior pemerintahan.
“Hal itu menimbulkan pertanyaan tentang tekanan politik di tingkat senior, meskipun sumbernya tidak jelas,” kata Kiriakou.
Ia kemudian menambahkan bahwa dalam pola operasi intelijen semacam ini, Epstein bisa saja berfungsi sebagai agen ganda yang tidak sepenuhnya setia pada satu pihak, termasuk kemungkinan bertindak bertentangan dengan kepentingan Israel atau aktor lain.
Pandangan ini menempatkan dugaan keterlibatan intelijen asing dalam kerangka yang lebih luas, bukan sekadar gosip politik atau teori konspirasi yang beredar di media sosial.
Meskipun Kiriakou tidak menyebut secara eksplisit negara mana yang diduga memanfaatkan Epstein, spekulasi tentang keterlibatan jaringan intelijen asing telah lama beredar di ruang publik.
Selain itu, sejumlah analis berpendapat bahwa Epstein berpotensi digunakan sebagai sumber keuntungan strategis dengan cara mengumpulkan bukti sensitif tentang para tokoh elite dunia yang dapat dimanfaatkan untuk memengaruhi atau menekan mereka di kemudian hari.
Sejumlah analis bahkan mengaitkan spekulasi ini dengan pernyataan tidak langsung dari beberapa tokoh di lingkaran intelijen yang menggambarkan Epstein sebagai aset intelijen asing yang berpotensi menguntungkan layanan intelijen tertentu.
Namun, hingga kini tidak ada badan intelijen mana pun yang secara resmi mengonfirmasi klaim tersebut, sehingga status dugaan ini tetap berada pada ranah interpretasi dan perdebatan publik, bukan fakta yang telah diverifikasi.
Di sisi lain dari perdebatan yang lebih luas soal implikasi Epstein terhadap keamanan global, Kiriakou juga menyuarakan keprihatinan mengenai arah kebijakan pertahanan Amerika Serikat.
Ia memperingatkan bahwa lonjakan belanja militer AS mendekati USD 1 triliun per tahun, jumlah yang sangat besar dibanding sekutu dan pesaing utama berisiko mendorong negara itu ke dalam krisis fiskal serius, sembari menyatakan bahwa Tiongkok fokus pada pembangunan infrastruktur dan perencanaan jangka panjang.
Perkembangan terbaru dalam seri dokumen Epstein Files yang dirilis pada Jumat (30/1/2026) lalu juga menimbulkan kritik bahwa dokumen-dokumen tersebut hanya sebagian dibuka kepada publik dan menyisakan banyak pertanyaan tentang hubungan Epstein dengan individu berpengaruh serta kemungkinan keterlibatan badan intelijen.
Kritik ini mencerminkan ketidakpuasan luas atas kurangnya transparansi penuh dalam kasus yang memengaruhi pandangan global terhadap kekuasaan, intelijen, dan hukum.
Pada akhirnya, pandangan mantan agen CIA ini memperluas perdebatan bukan hanya tentang dugaan kriminalitas Epstein, tetapi juga tentang bagaimana jaringan kekuasaan dan intelijen dapat berinteraksi di bawah permukaan geopolitik global, sebuah isu yang tetap menjadi fokus diskusi di kalangan pengamat keamanan internasional dan publik global. (rbs/jpc)

2 hours ago
4
















































