Baitullah, Saya Pamit

11 hours ago 15

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Setiap pertemuan selalu membawa satu kenyataan yang tak bisa dihindari: perpisahan.

Begitulah kehidupan berjalan. Tidak ada yang benar-benar tinggal selamanya. Bahkan untuk sebuah tempat yang begitu dicintai, yang bertahun-tahun hanya bisa dipandang dari kejauhan melalui doa-doa yang dipanjatkan seusai salat, melalui foto-foto yang tersimpan di layar ponsel, dan melalui air mata kerinduan yang diam-diam jatuh di sepertiga malam.

Minggu malam kemarin menjadi malam yang paling berat bagi saya selama berada di Tanah Haram. Setelah berhari-hari menjalani ibadah di Masjidil Haram, berkali-kali memandang Ka’bah dari berbagai sudut dengan rasa takjub yang tak pernah habis, tibalah saatnya saya harus berpamitan.

Selasa pagi, rombongan kami berangkat menuju Madinah. Karena hari Senin saya harus mempersiapkan keberangkatan ke Madinah, sehingga malam itu jadi kesempatan terakhir untuk melakukan tawaf wada, tawaf perpisahan sebelum meninggalkan Makkah.

Ya, Tawaf wada sendiri merupakan tawaf perpisahan, sebuah ibadah yang menjadi penutup sebelum jamaah meninggalkan Kota Makkah. Bukan sekadar mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran, tetapi juga menjadi cara seorang tamu berpamitan kepada Baitullah, rumah Allah yang telah memberinya kesempatan untuk datang, bersujud, menangis, dan mencurahkan segala harapan.

Langit Makkah mulai gelap ketika saya melangkah menuju Masjidil Haram. Udara malam terasa hangat. Ribuan manusia masih memenuhi pelataran masjid. Dari berbagai penjuru terdengar lantunan doa yang lirih bercampur suara talbiyah dan bacaan Al-Qur’an.

Semua terlihat sama seperti malam-malam sebelumnya.

Lampu-lampu masjid memancarkan cahaya terang. Lantai marmer berkilau memantulkan bayangan para jamaah yang terus bergerak mengelilingi Ka’bah tanpa henti.

Namun malam itu ada sesuatu yang berbeda.

Hati saya.

Ada rasa sesak yang perlahan memenuhi dada sejak langkah pertama memasuki pelataran Masjidil Haram. Saya sadar, inilah perjumpaan terakhir dalam perjalanan ibadah kali ini. Saya harus pergi.

Ketika pandangan tertuju pada Ka’bah, bangunan sederhana yang menjadi kiblat lebih dari dua miliar umat Islam di dunia, mata saya langsung basah.

Rasanya sulit menerima kenyataan bahwa beberapa jam lagi saya harus meninggalkan tempat yang selama ini menjadi tujuan doa dan kerinduan.

Saya tahu, inilah malam terakhir saya bersama Ka’bah.

Ketika bangunan suci itu kembali terlihat di hadapan mata, langkah saya seketika terhenti.

Ka’bah tetap berdiri kokoh seperti pertama kali saya melihatnya.

Anggun.

Tenang.

Menenangkan.

Namun entah mengapa malam itu pemandangan tersebut justru membuat air mata saya jatuh.

Saya menatapnya lama.

Sangat lama.

Seolah ingin menyimpan setiap sudutnya ke dalam ingatan.

Sebab saya tidak tahu kapan lagi bisa berdiri di tempat yang sama.

Atau bahkan apakah saya masih diberi kesempatan untuk kembali.

Saya mulai melangkah mengikuti arus jamaah. Malam itu saya tawaf di lantai dua, karena sudah ada kebijakan pemerintah setempat jika tawaf di lantai dasar harus memakai ihram.

Putaran pertama terasa begitu berat.

Biasanya saat tawaf saya berusaha fokus membaca doa-doa yang telah dihafal. Namun malam itu konsentrasi saya pecah. Di antara lantunan doa, ada isak kecil yang terus berusaha saya tahan.

Pada putaran kedua dan ketiga, air mata mulai jatuh tanpa bisa dicegah.

Entah mengapa langkah terasa lebih lambat dari biasanya. Seolah ada kekuatan yang menahan kaki untuk terus bergerak. Hati kecil saya menolak pergi.

Setiap kali Ka’bah kembali berada di hadapan mata, dada terasa semakin sesak. Saya mencoba mengabadikan pemandangan itu dalam ingatan. Kubah-kubah masjid, lantai marmer yang dingin, lautan manusia berpakaian ihram, dan Ka’bah yang berdiri kokoh di tengah-tengahnya.

Siapa yang tahu apakah saya akan kembali lagi ke sini?

Pertanyaan itu terus berputar di kepala.

Pada putaran-putaran terakhir, tangis saya semakin sulit disembunyikan. Di tengah lautan manusia yang bergerak mengelilingi Ka’bah, saya melihat banyak wajah yang mengalami perasaan serupa. Ada yang mengusap air mata, ada yang berdoa dengan suara bergetar, ada pula yang berdiri lama memandang Ka’bah seakan enggan berpisah.

Setelah tujuh putaran selesai, saya berdiri menghadap Ka’bah dari lantai dua, tepat sejajar dengan arah Hajar Aswad.

Malam itu saya tidak meminta banyak hal.

Saya hanya memohon satu hal yang terus berulang dalam doa.

“Ya Allah, jangan jadikan pertemuan ini sebagai pertemuan yang terakhir. Jika Engkau masih memberi umur, kesehatan, dan kesempatan, panggillah aku kembali ke rumah-Mu. Izinkan aku kembali menginjakkan kaki di Masjidil Haram dan kembali bersujud di hadapan Ka’bah-Mu.”

Doa itu terus saya ulang.

Lalu di sela-sela tangis yang semakin deras, terucap pula doa yang membuat hati saya semakin bergetar.

“Ya Allah, jika ini adalah pertemuanku yang terakhir dengan Baitullah di dunia, maka pertemukanlah aku kembali dengan rahmat-Mu di surga-Mu.”

Saya menatap Ka’bah untuk terakhir kalinya malam itu.

Lama. Sangat lama.

Hingga suara istri saya membuyarkan lamunan.

“Ayo, kita keluar. Kita sudah pamit. Jangan buat perpisahan ini semakin berat,” katanya pelan.

Saya hanya mengangguk.

Namun kaki ini terasa sulit melangkah.

Beberapa kali saya menoleh ke belakang.

Beberapa kali pula saya berusaha menghafalkan pemandangan yang perlahan menjauh dari pandangan mata.

Sampai akhirnya saya sadar bahwa waktu memang tidak pernah bisa dihentikan. Ada saat untuk datang, ada saat untuk pergi. Ada waktu untuk bertemu, dan ada waktu untuk berpisah.

Dengan langkah berat saya meninggalkan pelataran Masjidil Haram. Sesekali saya menoleh ke belakang, berusaha menangkap kembali pemandangan Ka’bah yang perlahan tertutup oleh kerumunan jamaah.

Malam itu saya memahami satu hal.

Ternyata yang paling menyedihkan dari perjalanan ke Makkah bukanlah lelahnya ibadah atau jauhnya perjalanan. Yang paling menyedihkan adalah ketika harus meninggalkan kota suci ini.

Meninggalkan Ka’bah.

Meninggalkan Masjidil Haram.

Meninggalkan tempat yang telah membuat hati merasa begitu dekat dengan Allah SWT.

Dan ketika langkah terakhir keluar dari pelataran masjid, saya sadar bahwa mungkin tubuh saya akan pergi meninggalkan kota ini.

Tapi, sebagian hati saya akan tetap tinggal di sana.

Di antara lantunan azan.

Di antara putaran tawaf.

Di hadapan Ka’bah yang malam itu saya tinggalkan dengan mata basah dan hati yang patah oleh sebuah perpisahan.

Semoga ini bukan salam perpisahan.

Semoga ini hanya ucapan, “sampai jumpa kembali.”(*)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |