Asshodriyah Islamic School Jatibening Tolak Pembangunan Lapangan Padel, Kepsek: Bisingnya Luar Biasa

4 hours ago 4

Beranda Berita Utama Asshodriyah Islamic School Jatibening Tolak Pembangunan Lapangan Padel, Kepsek: Bisingnya Luar Biasa

PROYEK PADEL: Bangunan konstruksi lapangan padel berdiri tepat di samping Asshodriyah Islamic School (AIS), Jalan Caman Raya, Jatibening, Kota Bekasi, Jumat (8/5). FOTO: RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI — Gelombang penolakan pembangunan lapangan padel di Jalan Raya Caman Raya, Kelurahan Jatibening, Kecamatan Pondok Gede, tidak hanya datang dari orang tua murid Asshodriyah Islamic School (AIS), tetapi juga dari pihak sekolah swasta tersebut.

Kepala AIS, Ahmad Baidowi, mengatakan pihaknya menolak keberadaan lapangan padel karena letaknya terlalu dekat dengan lingkungan pendidikan.

“Kami dari pihak sekolah sangat menolak dengan adanya lapangan padel di belakang sekolah. Yang mana begitu dekat dengan lingkungan anak-anak. Kami khawatir ke depannya mengganggu kenyamanan proses belajar mengajar,” ujar Ahmad kepada wartawan, Jumat (8/5).

Menurutnya, pihak sekolah sudah menyampaikan keberatan sejak awal 2026. Surat keberatan telah dikirimkan ke Wali Kota Bekasi, kelurahan, kecamatan hingga dinas terkait. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut maupun balasan resmi.

“Dari awal sebelum pembangunan ini terjadi kami sudah mengirim surat ke pihak wali kota, kelurahan, kecamatan sampai dinas-dinas terkait. Tapi sampai saat ini belum ada follow up atau balasan,” katanya.

Ahmad menjelaskan, sebelum proyek pembangunan dimulai, lahan tersebut sebelumnya digunakan sebagai tempat penjualan tanaman hias. Setelah masa kontrak berakhir pada Oktober 2025, area tersebut mulai dibongkar dan dilakukan pembangunan tanpa pemberitahuan resmi kepada pihak sekolah.

“Ketika Oktober 2025 habis kontrak dan tidak diperpanjang, tiba-tiba ada penggusuran dan pembangunan tanpa ada pemberitahuan ke pihak sekolah,” ungkapnya.

BACA JUGA: Camat Pondokgede Janji Mediasi soal Penolakan Pembangunan Lapangan Padel Dekat Asshodriyah Islamic School Jatibening

Ia menyebut, pihak pengembang sempat datang untuk bersilaturahmi dengan pihak sekolah. Namun dalam pertemuan itu tidak ada pembahasan mengenai persetujuan pembangunan lapangan padel.

“Dari mereka ke kami hanya silaturahmi dan tidak ada draft persetujuan untuk lapangan padel,” katanya.

Pembangunan sempat dihentikan sementara selama Ramadan lantaran izin disebut belum terbit. Namun setelah Idulfitri, pembangunan kembali berjalan setelah izin keluar.

“Ramadan itu sempat setop pembangunan karena belum ada izin. Setelah Idul Fitri tiba-tiba izin keluar untuk mendirikan lapangan padel,” ujarnya.

Saat ini, rangka bangunan lapangan padel sudah mulai terlihat berdiri. Di atas lahan sekitar 2.000 meter persegi tersebut direncanakan akan dibangun lima lapangan padel beserta area kafe.

Pihak sekolah mengaku khawatir aktivitas olahraga di area tersebut nantinya akan menimbulkan kebisingan yang mengganggu siswa.

“Kami tidak alergi dengan olahraga padel. Tapi yang kami sayangkan kenapa terlalu dekat dengan sekolah,” kata Ahmad.

Menurutnya, dampak kebisingan bahkan sudah dirasakan sejak proses pembangunan berlangsung. Aktivitas konstruksi yang dilakukan sejak pagi hingga malam hari disebut mengganggu konsentrasi belajar siswa.

“Bisingnya luar biasa. Penarikan besi, penggunaan katrol, suara pembangunan itu sangat terdengar sampai kelas,” ujarnya.

Ahmad juga mengkritik aspek keselamatan kerja di lokasi proyek yang dinilai minim pengamanan.

“Dari pembangunan tidak ada safety-nya,” katanya.

Hal serupa disampaikan salah satu orang tua murid AIS Bekasi, Moniqe. Ia mengaku khawatir pembangunan lapangan padel yang berdempetan dengan sekolah dapat membahayakan siswa.

“Harusnya kalau bangun ada jaring pengaman, terpal atau pembatas. Sampai hari ini pun enggak ada. Anak-anak main di lapangan, olahraga, pengajian, upacara dilakukan di situ,” ujarnya.

Menurutnya, suara pembangunan sudah sangat mengganggu kegiatan belajar mengajar, bahkan sampai terdengar ke dalam kelas.

“Suara besi dipukul aja masuk sampai kelas. Belum nanti saat permainannya berlangsung,” katanya.

Moniqe mengungkapkan, gangguan tersebut sempat dirasakan saat pelaksanaan upacara Hari Pendidikan Nasional beberapa waktu lalu. Suara aktivitas proyek disebut membuat siswa kehilangan fokus.

“Anak-anak jadi enggak fokus karena dengar suara dari belakang. Mereka sampai lihat-lihat ke arah proyek,” ujarnya.

Ia juga menyoroti minimnya pengamanan proyek yang berada sangat dekat dengan area aktivitas siswa

“Saya takut kalau ada besi kelempar kena anak-anak. Itu bahaya,” katanya. (rez)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |