Beranda Berita Utama Tas, Buku, dan Air Mata: Catatan Kemanusiaan Gerakan Anak Negeri di Pedalaman Aceh
Penyerahan perlengkapan sekolah. FOTO: GERAKAN ANAK NEGERI
RADARBEKASI.ID, BEKASI – Enam hari mungkin terdengar singkat. Tapi di Aceh, enam hari itu rasanya seperti enam musim. Musim hujan di jalan berlumpur. Musim dingin di pegunungan yang belum sepenuhnya pulih. Musim haru ketika satu per satu anak menerima seragam baru, masih terlipat rapi, dengan mata yang tidak lagi kosong.
Langkah itu dimulai dari jalan berlumpur dan tenda-tenda darurat. Di sanalah tim relawan Gerakan Anak Negeri (GAN) berdiri, memandangi anak-anak yang masih ingin sekolah meski rumah mereka telah hilang.
Bagi tim Gerakan Anak Negeri, pemandangan itu bukan sekadar potret bencana. Itu panggilan.
Penanggungjawab Gerakan Anak Negeri, Hazairin Sitepu menegaskan, selama enam hari di Aceh, perjalanan para relawan seperti menyusun potongan puzzle kemanusiaan.
Dari Aceh Utara ke Bireuen, lanjut ke Aceh Tengah, lalu ke Bener Meriah hingga Aceh Tamiang, relawan menyusuri wilayah terdampak untuk satu tujuan sederhana namun mendasar, yakni memastikan anak-anak tetap bisa belajar.
Penyerahan perlengkapan sekolah. FOTO: GERAKAN ANAK NEGERI
“selama di Aceh, kita menyerahkan bantuan berupa seragam sekolah, tas, dan alat-alat tulis kepada tujuh belas sekolah kurang lebih,” ungkap Hazairin, Sabtu, 14 Februari 2026.
Di setiap lokasi, kata Hazairin, cerita yang mereka temui hampir sama. Banyak siswa kehilangan rumah, sebagian bahkan hanya memiliki pakaian yang melekat di badan. Seragam sekolah menjadi barang mewah yang tak lagi mereka miliki.
Dari situlah bantuan berupa seragam, tas, dan alat tulis dibagikan ke 17 sekolah. Rinciannya tersebar di beberapa daerah, termasuk sembilan sekolah di Aceh Utara serta masing-masing dua sekolah di wilayah lain yang disambangi.
Namun perjalanan itu belum selesai. Di balik kabut pegunungan, masih ada sekolah yang belum tersentuh bantuan karena akses sulit.
Informasi itu kini menjadi catatan penting bagi tim relawan untuk kemungkinan misi berikutnya.
Tim Gerakan Anak Negeri sadar, bantuan bukan sekadar barang yang diserahkan, melainkan jembatan yang menghubungkan anak-anak dengan masa depan.
Hazairin menegaskan, misi ini tidak berdiri sendiri. Di balik setiap tas sekolah yang dibagikan, ada tangan-tangan donatur dari berbagai daerah, termasuk Bogor, yang ikut menopang. Kolaborasi itulah yang membuat harapan bisa sampai ke tempat-tempat yang sebelumnya terasa jauh.
Di ujung perjalanan, yang tersisa bukan hanya laporan kegiatan, tetapi kisah tentang bagaimana solidaritas menempuh jarak ratusan kilometer demi satu hal yang tak bisa dihitung angka: semangat belajar yang kembali menyala.
Program ini merupakan inisiatif Gerakan Anak Negeri berkolaborasi dengan PMI Kabupaten Bogor dan Bogor Peduli Bencana. (*)
Penyerahan perlengkapan sekolah. FOTO: GERAKAN ANAK NEGERI

12 hours ago
14

















































