Seruput Kopi Sebelum Ajal Menjemput

5 hours ago 11

Oleh: Chotim Wibowo*

INI tentang sebuah buku. Judulnya “Secngkir Kopi Sebelum Ajal Menjemput”. Penulisnya Muhamad Yasir, Lc. Buku ini, kata penulisnya, membahas yang serius dengan bahasa yang ringan. Karena tidak semua yang serius tentang kebaikan, harus dibahas dengan serius. Bisa juga dibahas dengan ringan.

Maka kemudian, penulis mengambil clue judul ‘Kopi’ sebagai simbol ‘santai’. Dan kemudian menggabungkan judul dengan ‘ajal atau maut’. Sesuatu yang serius dan sangat ‘mengkhawatirkan’.

Saya sempat ‘terkecoh’ juga dengan judul ini. Bagaimana bisa secangkir kopi bisa dinikmati. Sedangkan ajal mau menjemput. Jangankan kopi, hal-hal besar pun jika dihadapkan ‘ajal’ maka tak akan ada artinya. Maka terkecoh ini kemudian memunculkan penasaran. Bagaimana bisa?

Kecohan kedua, penulis (Muhammad Yazir Lc), sekilas sama dengan nama tokoh fenomenal Masjid Jogokaryan, Yogya, Mohammad Jazir. Tokoh kemasjidan ini belum lama meninggal. Dan meninggalkan konsep masjid keumatan yang sangat diminati.

Menikmati kopi di era ini memang tengah menjadi tren. Tengah diminati masyarakat kita, khususnya kalangan muda. Banyak kafe dengan sajian utama kopi dengan berbagai penawaran menggiurkan. Setiap malam, di banyak sudut kota, selalu dipenuhi pelanggan kopi. Sebagian besar diantaranya, anak-anak muda.

Ternyata, tren menikmati kopi ini sudah ada di masa awal keislaman. Seperti di masa Khalifah Umar bin Abdul Azis, banyak tempat minum kopi (maqha) yang berdiri. Di tempat itu, orang bisa berkumpul dan bercengkrama.

Maqha dijadikan tempat untuk menyatukan antara ‘kesalehan dan kebahagiaan’. Hal yang baik -dalam masalah agama- dibawa di maqha, lalu dibicarakan. Jadilah tempat diskusi yang ideal. Dan tema yang dibicarakan seperti proyek keagamaan, tentang memakmurkan masjid, atau kemaslahatan sosial diangkat dalam diskusi itu.

Maqha sering juga menjadi tempat yang hanya tempat ngobrol antar sahabat. Dan tema yang dibicarakan juga sangat ringan, namun sebenarnya bernilai dalam kehidupan keagamaan. Seperti ketika sahabat hanya bertanya; berapa rakaat semalam engkau qiyamullail? Atau pertanyaan; terkait zakat bagaimana. Ini unik, karena tema seperti ini biasanya hanya disampaikan dalam kajian, majlis taklim atau pembahasan serius masalah agama.

Buku ini, sepertinya ingin mengambil sesi ini. Hal yang serius, tidak selalu harus dibahas di forum resmi dan menegangkan. Tetapi sangat bisa dilakukan di tempat santai, seperti di warung kopi.

Tema-tema yang ringan, yang menjadi kebiasaan dilakukan umat di masa sekarang, sangat bisa dibahas dan diselaraskan di kafe. Agar tak spaneng, misalnya, saat membahas kematian.

Buku ini mengandung banyak tema yang disajikan. Dibagi dalam 4 bagian. Pertama; Secangkir Kopi Sebelum Ajal. Kedua; Bahagian dengan Taqdir-taqdir langit. Ketiga; Tidak Ada Kekuatan yang Mengubah Sedahsyat Cinta. Kelima; Allah Tetap Mencintaimu walau bermaksiat kepadaNya.

Dan memang bener.

Satu tema yang cukup mengecoh saya, ketika bagian awal disampaikan tema kopi tersebut.

Pertama, dikisahkan seorang Arab Baduy yang jatuh ke dalam sumur. Kondisi pingsan dan lelah. Kemudian ditolong dan dinaikkan ke atas sumur. Sebagian orang kemudian menolong, dan diantaranya membuatkan kopi.

Warga yang menolong -setelah siuman, kemudian bertanya, kenapa bisa jatuh ke dalam sumur yang dalam. Tadi ceritanya bagaimana?

Orang itu setelah dimintai menikmati kopinya, kemudian bercerita bagaimana dia bisa jatuh. Dengan bersemangat dia menceritakan dan sekaligus memperagakan saat berpegangan ke suatu barang ternyata barang itu rapuh. Hingga akhirnya jatuh ke dalam sumur.

Namun, saking begitu bersemangat dalam bercerita dan memperagakan, akhirnya malah dia terjatuh lagi ke dalam sumur yang sama. Apesnya, kali ini dia terjatuh dan meninggal dunia. Itulah kemudian disebutkan, secangkir kopi sebelum ajal menjemput. Secangkir ini rejeki dari Allah yang ditakdirkan Allah dan tidak akan hilang darinya.

Kisah ini disebutkan sumbernya dari Syekh Shaleh Almaghomsi, Imam Masjid Quba, Madinah.

Ada juga tema, yang kemudian ada kesan berlebihan gegara ingin mengaitkan dengan kenikmata kopi. Di bagian kedua, diberi judul; tiga nikmat dunia yang melebihi kopi. Judul ini bisa saja bombastis, dalam rangka menarik minat untuk membacanya. Penasaran.

Apa saja kenikmatan -yang bisa melebihi kenikmatan, kopi itu? Maka kemudian dijelaskan, ada seorang ulama salaf, Muhammad bin Almunkadir, yang menyebutkan; tidak ada tersisa kenikmatan dunia yang bisa melebihi tiga kenikmatan ini. Apa itu; Kenikmatan Qiyamullail, Kenikmatan Silaturahmi dengan sesama muslim dan Kenikmatan Shalat Berjamaah. Nah?

Mereka, sebagian umat, ada yang terlaurt dalam kenimatan berjoget, memancing, foya-foya. Kenapa itu terjadi? Itu karena mereka belum bisa merasakan nikmatnya sujud dalam shalat tahajud. Dia belum bisa merasakan nikmatnya bermunajat dalam shalat berjamaah.

Buku ini dalam setiap bagian selalu menyertakan ayat-ayat Alquran atau juga hadits. Maka kemudian, bahasan keagamaan memang dimaksudknya untuk bsa dibahas dengan lebih ringan. Tentu dengan penyampaikan bahasa yang lugas, luwes, dan mudah difahami. (*Penulis penikmat buku, tinggal di Perum Pondok Surya Mandala, Jakamulya, Bekasi Selatan)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |