Emisi Metana TPST Bantargebang Ancam Pernapasan Warga

8 hours ago 14

MENGGUNUNG: Truk pengangkut sampah mengantre di kawasan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Selasa (12/5). RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi mengeluarkan peringatan soal ancaman kesehatan akibat emisi metana dari TPST Bantargebang. Paparan gas dari gunungan sampah raksasa itu dinilai berisiko memicu gangguan pernapasan bagi warga yang tinggal di sekitar lokasi.

Kepala Dinkes Kota Bekasi, Satia Sriwijayanti Anggraini, mengatakan gas metana dari timbunan sampah merupakan zat berbahaya yang dapat berdampak serius jika terpapar terus-menerus dalam jangka panjang.

“Pastinya berhubungan dengan pernapasan karena itu gas berbahaya,” ujar Satia, Selasa (12/5).

Peringatan itu mencuat setelah TPST Bantargebang  tercatat sebagai penyumbang emisi metana terbesar kedua di dunia sepanjang 2025.

Peringkat itu merujuk riset tim Emmett Institute, University of California, Los Angeles (UCLA) School of Law, yang dipublikasikan pada April 2026. Dalam laporan tersebut, TPST Bantargebang menghasilkan sekitar 6,3 ton emisi metana per jam.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat di sekitar kawasan pembuangan sampah terbesar di Indonesia itu.

Menurut Satia, Pemkot Bekasi selama ini telah memberikan perhatian khusus bagi warga Bantargebang melalui peningkatan layanan kesehatan dan pemberian vitamin untuk menjaga kondisi tubuh masyarakat.

“Pelayanan kesehatan di wilayah Bantargebang memang kami perbanyak dibanding daerah lain. Ada juga pemberian vitamin untuk masyarakat sekitar,” katanya.

Selain memperkuat layanan kesehatan, Pemkot Bekasi berharap proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) bisa menjadi solusi jangka panjang untuk menekan emisi gas metana dari timbunan sampah.

Dinkes juga mendorong masyarakat mulai memilah sampah rumah tangga dan mengurangi penggunaan plastik guna mengurangi produksi gas dari sampah yang sulit terurai.

“Pemilahan sampah dan pengurangan plastik penting untuk menekan produksi gas metana,” tegasnya. (rez)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |