Sejarah dan Keutamaan Salat Tarawih di Bulan Ramadan 2026 yang Wajib Diketahui

18 hours ago 17

Beranda Ramadan Sejarah dan Keutamaan Salat Tarawih di Bulan Ramadan 2026 yang Wajib Diketahui

Ilustrasi jamaah salat Tarawih. Foto: Freepik.

RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Pada 17 Februari 2026, Menteri Agama, Nasaruddin Umar, bersama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI), resmi menetapkan bahwa bulan Ramadan 2026 akan dimulai pada 18 Februari 2026. 

Penetapan ini tentu menjadi kabar yang dinantikan oleh umat Muslim di seluruh Indonesia. Bulan suci Ramadan bukan sekadar waktu untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Selama Ramadan, umat Islam diwajibkan untuk berpuasa, dengan pengecualian tertentu bagi wanita yang sedang haid atau nifas, orang sakit, serta musafir. 

Namun, bukan hanya puasa yang menjadi fokus ibadah; bulan ini juga menjadi momen untuk memperbanyak amalan sunnah seperti salat tarawih dan salat witir.

Salat Tarawih: Investasi Spiritual yang Penting

Sebelum memulai puasa, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan salat tarawih dan witir pada malam hari. Meski kadang terasa berat setelah seharian beraktivitas, pahala dari salat sunnah di malam Ramadan sangat besar. 

Dalam hadits riwayat Abu Daud, disebutkan bahwa amal pertama yang akan dihisab di hari kiamat adalah salat. Allah SWT akan menilai apakah salat wajib seorang hamba telah sempurna. Jika masih ada kekurangan, amal sunnah yang dilakukan akan menjadi penyempurna.

Baca Juga: 4 Keutamaan Ramadan Menurut Ustadz Adi Hidayat yang Perlu Diketahui, Apa Saja?

Dengan kata lain, salat tarawih dan witir di bulan Ramadan dapat dianggap sebagai “investasi ibadah” untuk menambal kekurangan salat fardu kita sepanjang tahun.

Sejarah Singkat Salat Tarawih

Istilah “Tarawih” sebenarnya baru dikenal pada era sahabat Rasulullah SAW. Pada zaman Nabi, salat malam selama Ramadan disebut Qiyam Ramadhan. 

Berdasarkan catatan Imam Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari, pengaturan salat malam secara berjamaah dengan jeda istirahat diperkenalkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab, yaitu sebanyak 20 rakaat dengan jeda setiap empat rakaat.

Kata “Tarawih” berasal dari bentuk jamak tarwihah, yang berarti “istirahat”. Hal ini merujuk pada jeda di antara rakaat, yang digunakan untuk berzikir atau beristirahat sejenak. Meski begitu, beberapa ulama berpendapat bahwa salat tarawih cukup dilakukan 8 rakaat, dengan ketentuan istirahat serupa setelah empat rakaat.

Keutamaan Salat Tarawih

Salat tarawih memiliki keistimewaan yang luar biasa. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa siapa saja yang melaksanakan salat malam Ramadan karena iman dan mengharap pahala, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.

Keutamaan ini semakin bertambah jika salat tarawih dilakukan secara berjamaah di masjid. Berdasarkan hadits riwayat Abu Daud dan Tirmidzi, pahala bagi yang menunaikan salat tarawih berjemaah bersama imam hingga selesai setara dengan pahala salat sepanjang malam tanpa henti. 

Bayangkan, hanya dengan sekitar satu jam melaksanakan tarawih berjamaah, ganjarannya seolah kita beribadah sepanjang malam.

Baca Juga: Niat dan Tata Cara Salat Tarawih dan Witir Lengkap di Bulan Ramadan

Ramadan adalah bulan penuh berkah. Oleh karena itu, mari maksimalkan ibadah dengan menunaikan salat sunnah tarawih, sambil tetap menunaikan salat fardu dengan benar. 

Jangan sampai ibadah sunnah dilakukan tanpa memperhatikan salat wajib, karena keduanya saling melengkapi. Dengan niat yang tulus, Ramadan tahun ini bisa menjadi momentum memperkuat spiritualitas dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. (ce2)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |