RADARBEKASI.ID, BEKASI – Harapan puluhan ibu rumah tangga di Kota Bekasi, untuk menambah penghasilan di tengah tekanan ekonomi justru berubah menjadi mimpi buruk. Iming-iming sembako murah, seperti minyak goreng, beras, dan gula, diduga menjadi modus penipuan yang menjerat sedikitnya 40 orang. Total kerugian para korban diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar.
Ironisnya, terduga pelaku berinisial N bukan orang asing bagi para korban. Ia dikenal sebagai sesama ibu rumah tangga dan tinggal di lingkungan yang sama, sehingga rasa percaya menjadi modal utama yang dimanfaatkan dalam menjalankan aksinya.
Salah satu korban, Tia (48), mengaku mengenal N melalui kakak iparnya yang lebih dahulu menjalin hubungan dengan terduga pelaku. Warga Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi itu awalnya tergiur karena harga sembako yang ditawarkan jauh lebih murah dibanding harga pasar.
Melihat peluang keuntungan, Tia kemudian memasarkan kembali produk tersebut melalui media sosial. Respons masyarakat sangat tinggi. Pesanan terus berdatangan sejak April 2026 dan transaksi awal berlangsung tanpa hambatan.
“Awalnya 18 April ikut PO, mulai transfer itu tanggal 10 April, datang barang sekitar 18 sampai 19 April,” kata Tia saat ditemui di Mapolres Metro Bekasi Kota, Kamis (23/7).
Kepercayaan korban semakin besar karena seluruh pesanan selalu dikirim tepat waktu. Volume pembelian pun meningkat drastis, dari sekitar 20 karton minyak goreng hingga menembus lebih dari 100 karton dalam satu kali pemesanan.
Situasi mulai berubah memasuki pertengahan Juni. Pesanan yang dilakukan pada rentang 16 hingga 22 Juni tak kunjung dikirim. Berbagai alasan disampaikan, mulai dari keterlambatan distribusi hingga kendala operasional. Tak lama kemudian, komunikasi dengan N terputus.
“Malam itu saya tunggu sampai besoknya jam lima pagi pun saya WA lagi, ceklis satu juga. Aduh, sudah nggak enak banget,” ungkapnya.
Merasa curiga, Tia mendatangi rumah N yang letaknya tidak jauh dari kediamannya. Pada pagi hari kondisi rumah terlihat biasa. Namun beberapa jam kemudian, puluhan orang mulai berdatangan dengan tujuan yang sama, yakni menanyakan barang yang telah mereka bayar.
Saat itulah para korban menyadari bahwa mereka mengalami persoalan serupa. Dugaan penipuan pun mencuat setelah diketahui N bersama suami dan anak-anaknya sudah tidak lagi berada di rumah.
Akibat kejadian tersebut, Tia mengaku kehilangan uang lebih dari Rp208 juta.
Berdasarkan pendataan sementara para korban, nilai kerugian kolektif diperkirakan telah mencapai sekitar Rp1,5 miliar.
“Perkiraan keseluruhan Rp1,5 miliar,” ujarnya.
Upaya penyelesaian secara kekeluargaan sempat dilakukan. Para korban bertemu dengan keluarga terduga pelaku, termasuk orang tua dari suami N yang diketahui berinisial IDA. Namun pertemuan itu tidak menghasilkan kesepakatan.
“Hari Rabunya kita menunggu orang tua dari suaminya datang dari Bogor. Begitu datang ternyata bilang, karena nominal besar saya tidak ada uang sebesar itu, jadi saya nyerah. Malah bilang kalau sudah rumah tangga itu urusan masing-masing,” tutur Tia menirukan pernyataan keluarga terduga pelaku.
Karena tidak memperoleh kepastian pengembalian dana, sejumlah korban akhirnya melaporkan kasus tersebut ke Polres Metro Bekasi Kota.
Modus penawaran sembako murah ternyata menyebar luas dari mulut ke mulut. Tidak hanya menjangkau warga Kota Bekasi, tetapi juga merambah hingga Kabupaten Bekasi. Banyak korban bahkan ikut menawarkan kembali barang tersebut kepada kerabat dan tetangga dengan harapan memperoleh keuntungan kecil.
Korban lainnya, Mimi Jamilah (37), warga Desa Sumberjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, mengaku mengalami kerugian hingga Rp47 juta. Ia mengetahui penawaran tersebut dari seorang teman, kemudian ikut menerima pesanan dari keluarga, tetangga, hingga rekan-rekannya.
Dalam setiap transaksi, Jamilah hanya mengambil keuntungan sekitar Rp10 ribu per pesanan.
“Banyak yang mau, sepupu saya saja Rp17 juta,” katanya.
Setelah N beserta keluarganya menghilang, Jamilah justru harus menanggung tuntutan para pemesan yang telah menyerahkan uang kepadanya. Demi menjaga kepercayaan, ia berusaha mengembalikan dana meski harus menggunakan kemampuan sendiri.
“Ganti mas, saya kan nggak makan uangnya. Mau nggak mau daripada saya jelek ibaratnya, saya ganti. Karena memang uangnya belum ada ya saya minta waktu,” ucapnya.
Selisih harga yang ditawarkan memang sangat menggiurkan. Minyak goreng kemasan bermerek yang umumnya dijual sekitar Rp250 ribu per karton hanya dipasarkan seharga Rp210 ribu.
Perbedaan harga Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per karton membuat banyak orang yakin tawaran tersebut merupakan peluang usaha yang menguntungkan.
Kuasa hukum para korban, Wesly Sitohang, mengatakan daya tarik utama dalam kasus ini adalah harga yang jauh di bawah pasar. Sebagian korban merupakan ibu rumah tangga yang ingin memperoleh tambahan penghasilan, sementara sebagian lainnya memang berprofesi sebagai pedagang.
“Jadi yang namanya usaha di zaman ekonomi susah sekarang ini kan ada kesempatan ekonomi seperti ini, mereka berupaya mencari keuntungan sedikit,” katanya.
Menurut Wesly, berdasarkan keterangan para korban, transaksi pada tahap awal berlangsung normal sehingga menumbuhkan kepercayaan. Hambatan baru muncul ketika nilai transaksi semakin besar.
Berbagai alasan disampaikan terduga pelaku, mulai dari keterlambatan pengiriman dari pabrik hingga kendaraan distribusi yang mengalami kerusakan. Akibatnya, kerugian yang dialami para korban rata-rata mencapai Rp100 juta.
“Karena ada yang Rp120 juta, ada yang Rp200 juta, ada yang Rp70 juta, ada yang Rp47 juta, kita ambil rata-rata Rp100 juta,” jelasnya.
Saat ini sedikitnya tiga korban dengan nilai kerugian terbesar telah membuat laporan resmi ke Polres Metro Bekasi Kota atas dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan. Pihak kepolisian tengah melakukan penyelidikan terhadap laporan tersebut.
“Mereka melaporkan dugaan tindak pidana penipuan penggelapan atas tindakan dari terlapor,” tambah Wesly.
Sementara itu, Wakasat Binmas Polres Metro Bekasi Kota, AKP Puji Astuti, mengimbau masyarakat agar tidak mudah tergiur tawaran barang dengan harga yang tidak masuk akal. Menurutnya, kondisi ekonomi yang sulit kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk menarik perhatian calon korban.
“Jadi kami berharap siapapun jangan sampai terperdaya atau percaya dengan iming-iming bahwa akan ada hasil yang lebih dari sewajarnya,” kata Puji.
Ia meminta masyarakat lebih teliti memverifikasi setiap penawaran, terutama yang beredar melalui media sosial atau berasal dari orang yang belum memiliki rekam jejak usaha yang jelas. Warga yang merasa menjadi korban juga diminta segera melapor agar kasus serupa tidak terus memakan korban.
“Silakan segera melaporkan kalau itu memang ada bukti yang bisa dipastikan, supaya nanti pelakunya bisa segera diproses, kemudian tidak merajalela lagi, tidak ada korban-korban lagi,” pungkasnya.(sur)

4 hours ago
5

















































