RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi alarm serius bagi pemerintah. Sedikitnya enam provinsi ditetapkan sebagai wilayah paling kritis karena luas kebakaran terus meluas. Hingga 9 Agustus 2026, total lahan dan hutan yang terbakar di enam provinsi prioritas mencapai 48.889,69 hektare.
Enam provinsi tersebut adalah Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Berdasarkan data pemerintah, Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar, mencapai 28.680,47 hektare.
Posisi berikutnya ditempati Riau dengan 15.551,76 hektare, Kalimantan Tengah 3.069,52 hektare, Sumatera Selatan 664,87 hektare, Jambi sekitar 540 hektare, dan Kalimantan Selatan 383,07 hektare.
Secara nasional, luas hutan dan lahan yang terbakar bahkan telah mencapai sekitar 107 ribu hektare.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago mengatakan enam provinsi tersebut kini menjadi perhatian khusus pemerintah. Pemantauan dilakukan secara ketat karena berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), risiko karhutla meluas masih tinggi, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
BACA JUGA : Santunan Belum Cair, 12 Keluarga Korban Tragedi Kecelakaan Kereta Bekasi Timur Diminta Submit Proposal
”Daerah yang kami waspadai sebagai daerah yang paling kritis ada 6 provinsi, (karhutla) juga muncul di daerah lain di luar yang 6. Kalau yang 6 kami pantau dengan ketat,” kata Djamari, Senin (10/8).
Kondisi kering membuat strategi penanganan tidak bisa hanya mengandalkan operasi udara. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan operasi modifikasi cuaca (OMC) sangat bergantung pada keberadaan awan hujan. Sementara itu, kondisi hingga akhir Agustus diperkirakan belum mendukung pelaksanaan OMC secara optimal.
”Operasi udara sifatnya membantu. Ketika tidak ada awan hujan, OMC tidak dapat dilakukan. Dalam kondisi seperti itu, operasi darat menjadi sangat penting, terutama untuk memastikan api di lahan gambut benar-benar padam,” ujar Suharyanto.
BNPB saat ini mengerahkan 35 unit armada, terdiri atas 12 helikopter atau pesawat patroli, 21 helikopter water bombing, dan dua pesawat untuk OMC. Pemerintah juga mengupayakan tambahan delapan helikopter water bombing.
Namun, water bombing bukan satu-satunya senjata. Setelah penyiraman dari udara, pasukan darat harus menyisir lokasi untuk memastikan bara api, terutama di lahan gambut, benar-benar padam.
Bromo Masih Terbakar
Di Jawa Timur, karhutla juga masih membayangi kawasan konservasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Kebakaran yang mulai terjadi pada 3 Agustus 2026 tersebut telah berdampak terhadap sekitar 742,70 hektare kawasan.
Dari 34 titik kebakaran yang sebelumnya terpantau, kondisi berangsur membaik. Tidak lagi ditemukan titik api di sejumlah wilayah, tetapi tim gabungan masih melakukan pendinginan di kawasan P30 dan Lembah Dingklik.
Danrem 083/Bdj sekaligus Dansektor Penanganan Karhutla Wilayah Korem 083/Bdj Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan mengatakan, titik api aktif diperkirakan tinggal sekitar 10 persen dari kawasan terdampak.
”Ini hanya sisa titik-titik kecil, sekitar 10 persen, yakni di dua titik tadi. Tapi, kami tetap waspada dan siaga,” katanya.
Petugas masih disiagakan selama 24 jam. Pemantauan dilakukan melalui patroli darat dan drone, sementara dua helikopter dikerahkan untuk water bombing.
Api juga sempat merambat ke kawasan Penanjakan, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Panjang area yang terbakar mencapai sekitar tujuh kilometer.
Kapolsek Tosari Iptu Sumbut Pujaningwang mengatakan api mulai mereda pada Senin siang. Meski demikian, petugas tetap melakukan pemadaman dan mengantisipasi agar api tidak kembali meluas.
Pariwisata Terpukul
Penutupan total kawasan TNBTS turut memukul sektor pariwisata Jawa Timur. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim kini menghitung potensi kerugian akibat terhentinya aktivitas wisata di Bromo.
Kepala Disbudpar Jatim Evy Afianasari mengatakan dampak penutupan dirasakan pelaku UMKM hingga penyedia jasa wisata.
BACA JUGA :Pengamat Dorong DPRD Kawal Santunan Keluarga Korban Tragedi Kecelakaan Kereta Bekasi Timur
”Pihak Balai Besar TNBTS saat ini masih fokus pada pemadaman sehingga kami belum dapat mengonfirmasi data resmi. Namun, gambaran dampaknya bisa terlihat dari lalu lintas kunjungan harian,” kata Evy, Senin (10/8).
Pada hari kerja, Bromo biasanya menerima sekitar 1.000–2.000 wisatawan per hari. Saat libur, jumlahnya bisa melonjak hingga 6.000 orang.
Dengan tarif wisatawan nusantara Rp54 ribu pada hari kerja dan Rp79 ribu saat libur, sementara wisatawan mancanegara dikenai Rp225 ribu per orang, penutupan kawasan berpotensi menimbulkan kehilangan pendapatan yang signifikan.
Terlebih, Agustus merupakan salah satu periode puncak kunjungan wisatawan mancanegara ke Bromo.
Meski api berangsur padam, kawasan TNBTS masih ditutup hingga kondisi benar-benar dinyatakan aman. Pemerintah tidak ingin sekadar memadamkan api, tetapi memastikan tidak ada bara yang kembali menyala.
Di sisi lain, penyelidikan penyebab kebakaran masih berlangsung. Aparat mengumpulkan informasi untuk mengetahui sumber awal api.
”Kami tidak ingin berburuk sangka. Apakah itu dari wisatawan atau penduduk sekitar,” terang Wahyu.
Ia menilai faktor alam kemungkinan kecil menjadi penyebab. Sebab, meski vegetasi di kawasan Bromo dalam kondisi kering, suhu udara di kawasan tersebut masih relatif dingin. (ian/gus/zen/hn/ttg)

11 hours ago
15

















































