Bangkai Tikus Bisa Sebabkan Leptospirosis? Simak Risiko dan Cara Aman Menanganinya

55 minutes ago 5

RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Bangkai tikus yang mati setelah terlindas kendaraan kerap terlihat di berbagai jalan. Kondisinya yang sudah pipih akibat terlindas, ditambah debu dan sisa aspal yang menempel, biasanya membuat orang merasa jijik. Tak sedikit yang memilih menghindari bangkai tersebut dan melanjutkan perjalanan tanpa memedulikannya.

Meski terlihat sepele, masyarakat belakangan diingatkan untuk tidak asal menyentuh atau memindahkan bangkai tikus. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan tikus membawa bakteri tertentu yang dapat menjadi sumber penyakit dan berisiko menular kepada manusia.

Salah satu penyakit yang erat dikaitkan dengan tikus adalah leptospirosis. Penyakit ini muncul akibat infeksi bakteri Leptospira dan termasuk zoonosis, yakni penyakit yang penularannya dapat terjadi dari hewan kepada manusia.

Lalu, seberapa besar risiko yang ditimbulkan bangkai tikus yang sudah terlindas di jalan? Apakah sekadar melewati atau berada di dekatnya dapat menyebabkan seseorang terinfeksi leptospirosis? Simak penjelasan selengkapnya berikut ini.

Tikus Dapat Membawa Bakteri Penyebab Leptospirosis

Tikus termasuk salah satu hewan yang dapat membawa bakteri Leptospira. Pada tikus yang terinfeksi, bakteri tersebut dapat dikeluarkan melalui urine dan kemudian mencemari lingkungan di sekitarnya.

Penelitian yang tersimpan dalam repositori Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa risiko leptospirosis dapat berkaitan dengan aktivitas seseorang yang membuatnya sering bersentuhan dengan lingkungan yang telah tercemar.

Dalam penelitian yang dilakukan di Kabupaten Demak, ditemukan sejumlah perilaku masyarakat yang berpotensi meningkatkan paparan terhadap bakteri Leptospira. Salah satunya adalah kebiasaan membuang bangkai tikus ke sungai.

Hal tersebut menunjukkan bahwa persoalan leptospirosis tidak semata-mata berkaitan dengan keberadaan tikus mati. Risiko penularan lebih erat hubungannya dengan kontak dengan hewan yang terinfeksi maupun lingkungan yang sudah tercemar urine tikus.

Misalnya, seseorang dapat lebih berisiko ketika berjalan tanpa alas kaki di genangan air yang telah tercemar urine tikus. Risiko juga dapat muncul apabila kulit yang memiliki luka terbuka bersentuhan dengan air atau tanah yang terkontaminasi.

Penelitian lain terkait potensi penularan leptospirosis pada petugas rumah pemotongan hewan di Salatiga juga menunjukkan pentingnya kewaspadaan terhadap kontak dengan urine maupun darah hewan yang berpotensi menjadi sumber paparan bakteri.

Apakah Bangkai Tikus yang Terlindas Berbahaya?

Pertanyaan mengenai bangkai tikus yang terlindas perlu dilihat dari kondisi dan lokasi bangkai tersebut.

Melihat atau melewati bangkai tikus di jalan tidak serta-merta membuat seseorang tertular leptospirosis. Terlebih apabila bangkai berada di permukaan jalan yang panas dan kering serta seseorang tidak melakukan kontak langsung dengannya.

Baca Juga: Ubi Bombing Jadi Sorotan, Begini Cara Singkong Bisa Bantu Padamkan Api Karhutla

Meski begitu, bukan berarti bangkai tikus boleh dianggap aman untuk disentuh atau dipindahkan menggunakan tangan kosong.

Kondisi lingkungan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Bakteri Leptospira lebih berkaitan dengan lingkungan yang memiliki air atau kelembapan, seperti genangan, tanah basah, selokan, serta area yang tercemar urine hewan.

Karena itu, kondisi bangkai tikus yang terlindas di tengah jalan yang panas dan kering berbeda dengan bangkai yang berada di selokan, genangan air, atau tanah lembap.

Dengan kata lain, keberadaan bangkai memang perlu diwaspadai, tetapi masyarakat juga tidak perlu langsung panik setiap kali melihat tikus mati di jalan.

Hindari Menyentuh Bangkai dengan Tangan Kosong

Saat melihat bangkai tikus, sebagian orang mungkin memiliki keinginan untuk segera menyingkirkannya. Namun, apabila bangkai berada di jalan yang ramai, tindakan tersebut justru dapat menimbulkan bahaya lain.

Berhenti mendadak, turun dari kendaraan, atau berdiri di tengah jalur lalu lintas hanya untuk mengambil bangkai tentu tidak sebanding dengan risikonya.

Karena itu, masyarakat tidak perlu memaksakan diri menjadi “petugas kebersihan dadakan”. Jika bangkai berada di jalan umum, terutama pada ruas yang ramai kendaraan, sebaiknya tidak berhenti hanya untuk memindahkannya.

Penanganan bangkai dapat diserahkan kepada pihak yang bertanggung jawab atas kebersihan atau pemeliharaan jalan.

Hal yang perlu dihindari adalah menyentuh bangkai secara langsung, memasukkannya ke dalam kantong tanpa perlindungan, atau memindahkannya sembarangan ke lokasi lain.

Kontak langsung tersebut berpotensi membuat seseorang bersentuhan dengan bagian tubuh maupun material biologis yang mungkin terdapat pada bangkai.

Jangan Buang Bangkai Tikus ke Sungai atau Selokan

Membuang bangkai tikus ke sungai maupun selokan bukanlah cara yang tepat untuk mengatasi masalah.

Penelitian mengenai leptospirosis di Kabupaten Demak yang dilakukan dan tersimpan dalam repositori Kementerian Kesehatan menemukan adanya perilaku masyarakat membuang bangkai tikus ke sungai. Temuan tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya edukasi mengenai pengendalian tikus dan pencegahan leptospirosis.

Bangkai tikus sebaiknya tidak dipindahkan dari jalan lalu dibuang ke tempat yang memiliki air atau kondisi lembap. Apabila tikus tersebut terinfeksi, cairan tubuh maupun material biologisnya berpotensi mencemari lingkungan.

Hal serupa berlaku ketika seseorang berniat mengubur bangkai tikus sembarangan. Mengubur bangkai tidak otomatis menghilangkan potensi risiko apabila dilakukan tanpa memperhatikan cara penanganan dan kondisi lingkungan.

Lingkungan Seperti Apa yang Perlu Diwaspadai?

Kewaspadaan sebaiknya lebih ditingkatkan ketika berada di lingkungan yang banyak terdapat tikus, terutama kawasan yang memiliki genangan air, banjir, sawah, selokan, maupun tanah lembap.

Masyarakat juga perlu berhati-hati ketika membersihkan tempat yang diduga telah terkontaminasi urine atau kotoran tikus. Menggunakan alas kaki serta perlindungan yang sesuai dapat membantu mengurangi kemungkinan kontak langsung dengan lingkungan yang berisiko.

Penelitian mengenai leptospirosis pada petugas rumah pemotongan hewan di Salatiga turut menunjukkan pentingnya pengetahuan mengenai penyakit dan langkah pencegahannya. Studi tersebut menemukan masih adanya responden yang belum memahami leptospirosis serta cara mencegah penularannya dengan baik.

Artinya, pencegahan leptospirosis tidak cukup hanya dengan menghindari tikus. Masyarakat juga perlu memahami bagaimana bakteri Leptospira dapat berpindah ke manusia dan kondisi seperti apa yang meningkatkan risiko paparan.

Tidak Perlu Panik, tetapi Jangan Sembarangan

Melihat bangkai tikus di jalan tidak berarti seseorang akan langsung tertular leptospirosis. Risiko penularan berkaitan dengan adanya paparan yang memungkinkan bakteri masuk ke dalam tubuh.

Karena itu, masyarakat tidak perlu panik ketika menemukan bangkai tikus. Namun, bukan berarti bangkai tersebut boleh disentuh atau dipindahkan tanpa perlindungan.

Baca Juga: Waspada Penyakit Kencing Tikus saat Banjir, Kenali Gejala dan Cara Pencegahannya

Langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah menghindari kontak langsung, tidak berhenti di lokasi berbahaya hanya untuk memindahkan bangkai, serta tidak membuangnya ke sungai atau selokan.

Jika bangkai berada di lingkungan permukiman dan memang perlu ditangani, gunakan perlindungan yang sesuai serta bersihkan tangan dan peralatan setelah proses pembersihan selesai.

Pada akhirnya, bangkai tikus memang perlu diwaspadai, tetapi tidak harus membuat masyarakat ketakutan. Sikap yang paling tepat adalah tetap tenang, menghindari kontak langsung, dan menyerahkan penanganannya kepada pihak yang berwenang apabila bangkai berada di lokasi umum.

Sebab, dalam kondisi seperti ini, tindakan yang paling aman bukan menjadi orang yang paling cepat memindahkan bangkai, melainkan mengetahui kapan harus menjauh dan bagaimana menghindari potensi paparan penyakit. (mna)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |