Oleh: Miftakhudin
Jemaah haji Bekasi sekaligus Wakil Pemred Radar Bekasi, Miftakhudin.
RADARBEKASI.ID, BEKASI – Suasana berbeda saya rasakan saat memasuki puncak ibadah haji atau 10 Dzulhijah di Tanah Suci. Jika di Indonesia malam menjelang Iduladha biasanya dipenuhi gema takbir dari masjid dan musala, suasana di Kota Makkah justru terasa tenang dan lengang.
Tidak terdengar suara takbir bersahut-sahutan seperti di kampung halaman. Jalanan tetap berjalan seperti biasa. Aktivitas warga juga tampak normal tanpa hiruk-pikuk malam takbiran.
Perbedaan itu mulai terasa sejak kami menjalani wukuf di Padang Arafah pada 9 Dzulhijah. Sejak siang hari, para jemaah lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdoa, bertafakur, dan melakukan introspeksi diri. Sebelum wukuf dimulai, terlebih dahulu digelar khotbah Arafah di setiap tenda jemaah.
Kebetulan, khotbah di tenda kami disampaikan oleh pembimbing haji dari Kloter 21. Suasana di dalam tenda berlangsung khusyuk. Para jemaah mendengarkan tausiah sambil menahan haru karena akhirnya dapat merasakan langsung momen yang selama ini hanya dibayangkan.
Menjelang malam, rombongan kami bergerak menuju Muzdalifah. Perjalanan berlangsung perlahan karena jutaan jemaah dari berbagai negara bergerak menuju tempat yang sama. Sesampainya di Muzdalifah, kami bermalam sejenak di hamparan padang terbuka sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju Mina.
Pada 10 Dzulhijah atau hari puncak haji, kami menjalankan lempar jumrah aqabah. Ribuan jemaah berjalan kaki menuju lokasi lempar jumrah dengan tertib. Meski lautan manusia memadati kawasan Mina, suasana tetap terasa tenang.
“Iya, enggak kedengeran suara takbiran ya di sini,” celetuk Firdaus, seorang jemaah asal Bekasi Utara, di sela perjalanan menuju lokasi jumrah.
Ucapan itu langsung membuat saya teringat suasana malam takbiran di Indonesia yang biasanya meriah dengan beduk dan gema takbir dari pengeras suara masjid.
Setelah selesai melaksanakan lempar jumrah aqabah dan tahalul atau memotong rambut, barulah suara takbir mulai terdengar dari para jemaah. Takbir dilantunkan perlahan oleh jemaah dari berbagai negara sebagai tanda selesainya rangkaian utama ibadah haji.
Momen itu terasa menggetarkan. Seluruh jemaah yang telah menyelesaikan tahalul resmi menyandang gelar haji.
Rangkaian ibadah kemudian dilanjutkan pada 11 dan 12 Dzulhijah dengan melempar tiga jumrah, yakni jumrah ula, wustha, dan aqabah. Setelah seluruh rangkaian selesai, para jemaah kembali ke Kota Makkah.
Suasana Kota Makkah sendiri tampak jauh lebih sepi dibanding hari-hari biasanya. Jalanan terlihat lengang. Bus shalawat yang biasanya beroperasi selama 24 jam juga hampir tidak terlihat. Begitu pula dengan taksi yang hanya sesekali melintas di jalanan sekitar hotel jemaah.
Di tengah suasana yang tenang itu, saya justru merasakan makna Iduladha yang berbeda. Tidak ada gegap gempita malam takbiran seperti di Indonesia, tetapi ada ketenangan panjang yang menghadirkan rasa syukur setelah menuntaskan puncak ibadah haji.(*)

7 hours ago
12

















































