Dahlan Iskan mencoba mengemudikan mobil listrik Polytron G3+ di area pabrik Polytron di Sayung, Demak.--
Oleh: Dahlan Iskan
Begitu sulit menemukan mobil listrik di tengah budaya mobil di Amerika. Apalagi di Kanada. Sesekali masih melihat Tesla di Amerika tapi tidak pernah melihat merek mobil listrik yang lain. Di Kanada Tesla pun sangat jarang terlihat.
“Bukankah sudah ada kesepakatan Kanada-Tiongkok bahwa mobil listrik Tiongkok boleh masuk Kanada setelah canola Kanada boleh masuk Tiongkok?” tanya saya. “Kenapa saya tidak melihat ada BYD di sini?”
“Desember nanti orang Kanada baru bisa beli mobil listrik Tiongkok”.
Kanada beda dengan Indonesia. Produk minyak Kanada berlebihan untuk dipakai sendiri. Tidak ada kepentingan buru-buru pindah ke mobil listrik. Beda dengan negara Anda –negara saya juga: keuangan negara selalu dan selalu dirongrong subsidi BBM.
Maka ingatan saya ke Polytron.
Sudah lama saya ingin ke Polytron tapi baru kesampaian kapan itu –bersama rombongan tur bisnis Disway ke Semarang (Disway Explore Business with Dahlan Iskan –Jateng Series).
Saya ingin memberikan apresiasi yang tinggi: akhirnya ada perusahaan dalam negeri yang serius memproduksi kendaraan listrik: Polytron, dari grup Djarum, Kudus.
Kata ”dengan serius” perlu saya tegaskan mengingat baru Polytron yang melakukan investasi besar dan menyiapkan tim riset yang kuat. Produk pertamanya memang tidak langsung mobil tapi itu langkah yang benar: mendahulukan motor sambil membangun fondasi yang kuat.
Boleh dikata sepeda motor listrik Polytron kini sudah ”mapan”. Sudah mulai mengakar. Tahap coba-coba sudah lama berlalu. Sudah profesional. Sudah tinggal menaikkan market share. Angka produksinya pun sudah 10 kendaraan per jam. Sudah pakai sistem produksi ban berjalan seperti di industri motor yang modern.
Saya lihat pekerjanya sangat muda-muda semua –campur laki-laki perempuan.
Desainnya juga sudah matang, termasuk bisa menggabungkan antara ”cantik”, kuat, aman, dan hemat energi.
Misalnya baterai: ditempatkan di bagian bawah sepeda motor agar bisa memanfaatkan udara dari depan saat motor melaju. Angin dari depan masuk deras ke lubang kotak baterai. Itu berfungsi sebagai pendingin baterai. Hasilnya: baterai lebih awet. Suhu udara di dalam baterai turun sampai 30 persen.
Polytron memang berkepentingan dengan keawetan baterai. Itu karena penjualan motor listrik Polytron pakai sistem sewa baterai. Harga motor menjadi lebih murah. Sudah bisa bersaing dengan sepeda motor bensin.
Memang pembeli masih harus bayar sewa baterai secara bulanan tapi nilai sewanya masih lebih murah dari biaya sebulan membeli bensin.
Polytron sudah menemukan model bisnis penjualan motor listrik di Indonesia. Tinggal satu lagi yang masih harus diperjuangkan: bagaimana bisa membangun sebanyak mungkin stasiun charging.
Kalau bagian ini sudah bisa dilewati Polytron tinggal menuai panennya. Perjuangan Polytron dalam merintis industri motor listrik sudah sangat panjang. Sudah menjadi haknya untuk berhasil.
Perhatikan merek-merek motor listrik yang lain: mereka masih pada tingkat dikendalikan oleh kelas pedagang. Bukan oleh kelas industriawan.
Pedagang punya sifat hit and run. Tidak perlu investasi fondasi. Juga tidak perlu mikir terlalu ke depan. Tinggal beli suku cadang lalu dirakit secukupnya.
Pedagang berangkat dari nol. Industriawan berangkat dari minus yang dalam. Industriawan harus membangun fondasi.
Cara berpikir industri juga jauh lebih ke depan. Pun Polytron: sudah memikirkan apa yang akan terjadi delapan tahun lagi: kelak harus melakukan apa. Khususnya di bidang baterai.
Delapan tahun lagi baterai itu sudah tidak efisien lagi untuk sepeda motor. Harus diganti. Bekasnya, yang belum perlu dibuang, akan dikemanakan atau dipakai apa.
CEO Polytron Ir Hariono membisikkan bocoran konsep masa depan baterai itu. Masih rahasia. Tapi begitu mendengar bisikan itu saya langsung paham.
Setelah paham saya pun acungkan jempol kepadanya. Idenya sangat bagus –kalau Anda bisa menebak Anda layak jadi calon CEO Polytron setelah Hariono pensiun kelak.
Hariono orang Bojonegoro. Ia alumnus elektro ITS –arus lemah. Ia sudah memimpin Polytron sejak Djarum masuk ke industri elektronik: mulai dari speaker kecil sampai TV, mesin cuci, dan AC.
Anda sudah tahu: belakangan Polytron juga sudah mulai memproduksi mobil listrik. Penjualannya juga pakai sistem sewa baterai. Masa depan baterai mobil itu akan dibuat sama dengan baterai sepeda motor.
Di pabriknya di sebelah timur Semarang itu saya pun mencoba mobil listrik Polytron. Keliling pabrik seluas 39 hektare. Tidak satu pun yang bisa saya cela dari mobil Polytron. Saya menyetirnya dengan doa: semoga bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri.
Lalu, siapa tahu, ada jalan masuk Amerika atau Kanada. (Dahlan Iskan)

18 hours ago
9

















































