RADARBEKASI.ID, BEKASI – Peternak dan pedagang sapi di Kabupaten Bekasi diliputi kecemasan menyusul kemunculan penyakit Bovine Ephemeral Fever (BEF) atau demam tiga hari.
Penyakit ini dinilai lebih berbahaya dibanding penyakit mulut dan kuku (PMK) karena dapat menyebabkan kematian mendadak jika tidak segera ditangani.
Diketahui, BEF merupakan infeksi virus yang dibawa serangga penghisap darah, seperti Culicoides, Aedes, Culex, hingga Anopheles. Gejalanya muncul cepat, ditandai demam tinggi, lemas, dan gangguan pernapasan.
Ketua Kelompok Ternak Bumdes Cikahuripan, Desa Kertarahayu, Karma, mengatakan peternak harus sigap mengenali gejala awal. Keterlambatan penanganan, kata dia, bisa berujung fatal.
“Kalau PMK udah biasa, ini sapi ngos ngosan panas, kena BEF. Itu 1×24 jam kalau gak buru-buru ditangani sapi bisa mati,” ujar Karma, Senin (45).
Di kandangnya, dua ekor sapi sempat terjangkit BEF. Keduanya berhasil diselamatkan setelah mendapat perawatan intensif.
Sejak itu, Karma memperketat pola pemeliharaan, terutama dalam pemberian pakan dan suplemen untuk meningkatkan daya tahan tubuh ternak.
Ia mengombinasikan pakan berupa ampas tahu dan konsentrat dengan serat kasar seperti jerami dan rumput. Selain itu, vitamin diberikan secara berkala setiap tiga bulan. Menurutnya, kualitas pakan berperan besar dalam menjaga imunitas sapi, terutama di tengah ancaman penyakit musiman.
“Kasih makan rempah campuran, yang terdiri dari ampas tahu konsentrat. Terus sisanya serat kasar, jerami dan rumput. Selain itu tambah vitamin kita setiap tiga bulan sekali,” katanya.
Karma juga menekankan pentingnya pemberian obat cacing secara rutin. Tanpa pengendalian parasit, pakan yang dikonsumsi sapi tidak optimal terserap.
“Makan banyak (kalau,red) obat cacingnya kagak dikasih percuma, dimakanin cacing itu abis. Nggak gemuk-gemuk, cacingan. Seperti rumput, jerami, di bawahnya tanah, cacingnya di situ tempatnya,” tutur Karma.
Sementara itu, Ketua Tim Pengendalian Penyakit Hewan dan Penjamin Kesehatan Hewan (P2HPKH) Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Dewi Suryani, mengatakan pihaknya telah menerjunkan 32 personel dalam tim teknis pengawasan kesehatan hewan kurban menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah/2026. Mereka disebar di 23 kecamatan untuk memeriksa lapak penjualan, rumah potong hewan, hingga masjid sebelum penyembelihan. Hingga kini, belum ada laporan kematian sapi atau hewan kurban akibat serangan BEF.
“Apabila ditemukan hewan yang sakit di lokasi penjualan, pedagang diwajibkan untuk memisahkan atau mengisolasi hewan tersebut dari hewan sehat, melaporkannya kepada petugas kesehatan hewan, serta tidak menjualnya sebagai hewan kurban,” ucap Dewi.
Menurutnya, tim pengawasan merupakan gabungan dari berbagai unit, antara lain Bidang Kesehatan Hewan, Bidang Peternakan, Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), serta Rumah Potong Hewan (RPH). Pemeriksaan dilakukan dengan menilai keaktifan hewan, suhu tubuh, serta memastikan tidak ada tanda penyakit menular, seperti demam, pincang, atau luka fisik.
Dewi menekankan pentingnya peran pedagang dalam menjaga kesejahteraan hewan. Peternak dan pedagang diwajibkan menyediakan fasilitas yang memadai, seperti peneduh untuk mencegah stres akibat cuaca panas, serta pakan dan air minum yang cukup dan berkualitas.
“Masyarakat juga diimbau membeli hewan di lapak yang telah diperiksa oleh petugas kesehatan hewan, memperhatikan kebersihan kandang, serta memastikan hewan memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH),” pungkasnya. (ris)

15 hours ago
17

















































