PMI Kabupaten Bekasi Dirikan Posko WASH di Serangbaru, Olah Air Bekas Galian Pasir Jadi Air Bersih

12 hours ago 16

Beranda Cikarang PMI Kabupaten Bekasi Dirikan Posko WASH di Serangbaru, Olah Air Bekas Galian Pasir Jadi Air Bersih

OLAH AIR TELAGA: Petugas PMI mengecek proses pengolahan air Telaga Hijau menjadi air bersih di Posko WASH PMI Kabupaten Bekasi di Serangbaru, Jumat (3/9). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – PMI Kabupaten Bekasi mendirikan Posko Water, Sanitation, and Hygiene (WASH) selama sebulan di Kampung Tegal Kadu, Desa Sirnajaya, Kecamatan Serangbaru.

Posko tersebut mengolah air di lokasi bekas galian pasir Telaga Hijau menjadi air bersih untuk menyuplai kebutuhan warga terdampak kekeringan di Kecamatan Serangbaru, Cibarusah, hingga Bojongmangu.

Tim WASH PMI Kabupaten Bekasi, Haris Kusdinar, mengatakan air Telaga Hijau telah melalui serangkaian uji kelayakan sebelum diproduksi secara massal.

“Uji kelayakan meliputi kualitas, kekeruhan, bau, rasa hingga bakteri. Hasilnya memungkinkan untuk diolah,” kata Haris, Jumat (3/9).

Untuk mengolah air tersebut, PMI menyiagakan tiga unit mesin filter Water Treatment Plant (WTP) bantuan Pusat Air dan Sanitasi PMI Pusat di Jatinangor, Sumedang. Terdiri atas dua unit Veolia dan satu unit LMS.

Saat ini, dua mesin digunakan untuk memproduksi air bersih. Sementara satu unit Veolia yang dikhususkan untuk air siap minum masih disiapkan untuk tahap berikutnya.

Kapasitas pengolahan mencapai 4.000 liter per jam. Dari hasil pengolahan, air memiliki pH 7,6, kandungan klorin 0,3, dan tingkat kekeruhan 0,5.

“Semuanya hasilnya sudah maksimal untuk didistribusikan,” ucapnya.

Meski parameternya mendekati kriteria air siap minum, PMI memilih mendistribusikannya sebagai air bersih demi keamanan warga. Produksi harian ditargetkan mencapai 80.000 hingga 100.000 liter.

Jumlah itu bisa bertambah menyesuaikan ketersediaan armada truk tangki. Penyaluran air dilakukan dengan berkoordinasi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi.

PMI juga melakukan asesmen untuk memastikan bantuan diterima warga yang benar-benar membutuhkan. Permintaan air bersih dapat disampaikan melalui telepon maupun surat resmi.

“Selama ini PMI sudah mempunyai data beberapa kecamatan dan apa desa yang sudah meminta. Tadi juga sudah ada permohonan pengajuan by phone, termasuk nanti ada by surat untuk lebih legal. Karena kita terus terang PMI menyalurkan air bersih ini gratis kepada seluruh warga,” terang Haris.

Operasional posko yang bertepatan dengan tahapan Pilkades menjadi perhatian tersendiri bagi PMI. Bantuan dikhawatirkan dimanfaatkan untuk kepentingan politik atau meraih simpati warga.

Haris menegaskan distribusi air tidak didasarkan pada dukungan politik. PMI hanya melihat kebutuhan masyarakat di lapangan.

“Kami tidak melihat pendukung A, B atau C. Yang kami lihat adalah masyarakat yang benar-benar membutuhkan air bersih ini tanpa ada dasar kepentingan politik,” tegasnya.

Menurut Haris, masa operasional posko ditetapkan selama satu bulan. Perpanjangan akan dilakukan jika kekeringan masih terjadi, dengan mempertimbangkan kondisi tanggap darurat, ketersediaan anggaran serta arahan Pemkab Bekasi dan PMI Pusat.

“Kami mengimbau bantuan kebencanaan ini tidak dicampur adukkan dengan kepentingan sosial maupun politik,” pungkasnya. (ris)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |