Cari Muka

23 hours ago 16

Oleh: Dahlan Iskan

“Papa saya masih aktif mengajar,” ujar Ina Silas. Saya minta maaf kepada Ina: Prof Johan Silas, penerima Agha Khan Award dari Surabaya, telah saya kategorikan almarhum. Yakni di Disway dua hari lalu saat saya menulis soal hotel di Islamabad yang dipakai perundingan damai antara Amerika-Iran itu (Disway 12 April 2026: Hotel Syiah).

“Papa juga masih jadi komisaris di PT Yekape,” ujar Ina, anak keempat Pror Johan Silas. Yekape adalah perusahaan real estate yang awalnya yayasan YKP di Surabaya. Zaman itu belum marak usaha real estate. YKP fokus menyediakan rumah kredit untuk karyawan dan pegawai negeri.

Rumah pertama saya pun ada di YKP. Di Tenggilis Mejoyo. Saya membelinya secara mencicil. Status ekonomi saya masih wartawan honorer di majalah TEMPO. Yang besarnya penghasilan disesuaikan dengan banyaknya tulisan yang dimuat di TEMPO.

Maka saya pilih blok yang ukuran rumahnya paling kecil: 6 x 12 meter. Itu pun pilih yang paling murah karena tidak ada orang yang mau membeli rumah tusuk sate.

Rumah itu masih ada sekarang. Sudah lebih besar –kelak di tahun 1990-an rumah sebelah dijual. Lalu saya jadikan satu.

Tentu saya kenal baik dengan Prof Johan Silas. Ia sumber berita para wartawan Surabaya. Di samping itu Prof Johan Silas kelahiran Samarinda –sekampung dengan istri saya. Waktu saya di Samarinda Johan Silas sudah di Surabaya. Ia pindah ke Surabaya saat masih kecil: 12 tahun. Ikut Omanya.

Sang Oma yang membiayai Johan sekolah. Termasuk ketika di SMA St Louis. Lalu masuk ITB –jurusan arsitektur yang saat itu masih menjadi bagian dari fakultas teknik sipil.

Ayah Johan sendiri sebenarnya bermarga Liem. Sedang Omanya bermarga Sie. Kelak, di usia dewasanya Johan menggunakan marga Omanya. Jadilah Silas.

Bulan depan Prof Johan Silas genap 90 tahun. Sampai tahun lalu ia masih setir mobil sendiri, tapi tahun ini tidak lagi. “Dokter melarang papa setir mobil,” ujar Ina. “Kalau waktunya mengajar papa dijemput mobil Universitas Darma Cendika,” tambah Ina. Itu adalah universitas Katolik di Surabaya Timur.

Sebenarnya saya ingin ke rumahnya. Tapi saya sedang di kota lain. Padahal perbaikan tulisan harus segera dilakukan. “Kalau lewat telepon mungkin sulit. Pendengaran papa sudah menurun,” ujar Ina.

Tentu saya masih ingat mengapa Prof Johan Silas mendapat Agha Khan Award: ia pencetus KIP –Kampung Improvement Program. Terkenal di Surabaya pada zamannya. Sampai mendapat bantuan Bank Dunia. Selama lebih 10 tahun. Itu mirip dengan proyek M.H.Thamrin di zaman Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

Dua rumah susun pertama di Surabaya adalah karyanya. Yakni rumah susun yang mengakomodasikan sistem kehidupan orang kampung. Koridor antar petak rumah dibuat lebar: 3 meter. Itu mirip kehidupan di gang kampung asal di situ. Kalau malam penghuni rumah susun duduk-duduk cangkruan di koridor yang lebar itu. Rumah mereka hanya 3 x 6 meter tapi koridor depan rumah itu lapang.

Lalu di setiap lantainya disediakan kamar mandi dan toilet bersama.

Kini gaya rumah susun seperti itu tidak ada lagi. Tidak diteruskan. “Rumah susun sekarang menggunakan standar Kementerian Pekerjaan Umum,” ujar Dr Ir Nita yang sejak dulu tergabung di tim Kampung Kita yang didirikan Prof Johan Silas.

Saya sendiri heran: mengapa mengira Prof Johan Silas sudah almarhum. Berarti begitu lama kami tidak bertemu. Mungkin juga karena Kresnayana Yahya sudah meninggal. Keduanya tokoh ITS yang jadi media darling: yang satu di bidang urban planning, satunya bidang statistik.

Di ITS sendiri Prof Johan Silas dikenal sebagai salah satu pendiri jurusan arsitektur.

Menganggap Prof Johan sudah almarhum jelas itu bukan ”balas dendam”: sudah tiga kali saya dikabarkan meninggal. Dan saya tidak peduli.

Prof Johan Silas pun sama: masih segar bugar. Sejak dulu badannya langsing. Ceking. Tinggi. Berkaca mata. Dahinya lebar. Lima anaknya semua alumnus Eropa –empat di Prancis, satu alumnus Jerman. Kini dua anaknya tinggal di Prancis.

Ada saja jalan untuk kembali menjalin tali silaturahmi. Dalam hal saya dengan Prof Johan Silas jalannya lewat Islamabad. Lewat depan hotelnya Agha Khan.

Perundingan damai di hotel itu sendiri, menurut Wapres Amerika JD Vance tidak gagal total. Hanya gagal. Ada juga sisi berhasilnya. Keinginan Presiden Donald Trump, katanya, sudah tercapai: Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir lagi.

Keberhasilan versi Amerika itu sebaiknya kita akui: agar Trump senang. Lalu tidak main serang lagi.

Seharusnya Presiden Barack Obama yang mengalah: segera memuji Trump yang beranggapan sudah berhasil memenangkan perangnya dengan Iran. Agar Trump segera senang –dipuji oleh lawan utama politiknya.

Tentu kalau ukuran berhasil hanyalah “Iran sudah tidak akan mengembangkan senjata nuklir” itu sudah tercapai di zaman Presiden Obama. Iran sudah tanda tangan. Justru Trump yang membatalkan perjanjian itu.

Sayang Obama bukan orang Tionghoa yang punya prinsip ”berilah muka kepada orang yang senang cari muka”.(Dahlan Iskan)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |