RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Jangan remehkan penyakit influenza yang terjadi pada anak. Penyakit ini bisa menimbulkan risiko komplikasi berat pada beberapa kasus. Hal ini mesti jadi perhatian seiring meningkatnya kasus Influenza A di Indonesia.
Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp IPT(K), dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut bahwa pada anak dengan faktor risiko, influenza dapat menyebabkan komplikasi berat seperti pneumonia, eksaserbasi asma, miokarditis, hingga ensefalopati.
“Diagnosis laboratoris sangat penting, terutama dengan RT-PCR yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi serta mampu mengidentifikasi subtipe virus,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (23/9/2026).
BACA JUGA: Kasus Penyakit Influenza Melonjak di Kota Bekasi, Dinkes Imbau Masyarakat Selalu Terapkan PHBS
Secara global, ia menerangkan bahwa influenza diperkirakan menyebabkan 1 miliar infeksi setiap tahunnya, dengan 3–5 juta kasus berat dan 290 ribu-650 ribu kematian terkait pernapasan.
Adapun Kelompok yang paling berisiko mengalami komplikasi meliputi anak di bawah 5 tahun, lansia, ibu hamil, individu dengan penyakit kronis, serta tenaga kesehatan dan pengasuh.
Menurut data WHO Western Pacific Region periode 1 September 2025–30 Agustus 2026, aktivitas influenza di zona transmisi Asia Tenggara terus meningkat. Di Indonesia sendiri, pemantauan sentinel menunjukkan fluktuasi positif influenza sepanjang tahun dengan puncak pada akhir 2025 dan lonjakan kembali pada pertengahan 2026.
Sementara itu, data dari IDAI menunjukkan bahwa sekitar 5 persen anak yang terinfeksi influenza memerlukan rawat inap, dan 80 persen di antaranya adalah anak dibawah usia 2 tahun, dengan 50 persen diantaranya berusia kurang dari 6 bulan.
Anak di bawah 5 tahun memiliki morbiditas tinggi, terutama mereka yang menghadiri tempat penitipan anak, memiliki kelainan neurologi dan tumbuh kembang, tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang, atau berada di area padat penduduk.
“Anak dapat menularkan virus influenza sejak 24 jam sebelum gejala muncul hingga 10 hari setelahnya. Oleh karena itu, anak yang sakit harus diisolasi di rumah, tidak boleh dibawa ke sekolah atau tempat bermain sampai benar-benar pulih,” tegas Prof. Angrraini.
Selain itu, etika batuk, cuci tangan rutin, rajin minum air putih untuk mengurangi dehidrasi, dan penggunaan masker tetap menjadi langkah pencegahan non-farmakologis yang sangat efektif.
IDAI juga merekomendasikan vaksinasi influenza tahunan untuk semua anak mulai usia 6 bulan. Vaksin tersedia dalam bentuk inaktif (trivalen atau kuadrivalen) dan hidup intranasal (untuk usia 2–49 tahun dengan kondisi sehat). Vaksin influenza dapat mengurangi risiko infeksi hingga 40–60 persen, serta mengurangi keparahan penyakit dan komplikasi.
“Vaksinasi influenza harus diberikan setiap tahun karena virus influenza terus berevolusi melalui antigenic drift dan antigenic shift,” tandas Prof. Anggraini. (jpc)

1 hour ago
5

















































