Beranda Berita Utama Warga Teluk Pucung Kota Bekasi Tak Bisa Pulang dari Maroko, Mohon Bantuan Pemerintah
TERDAMPAR: Lely Lydia (33), warga Kelurahan Telukpucung, Kecamatan Bekasi Utara kini berada di Shelter Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Maroko.
RADARBEKASI.ID, BEKASI – Warga Kelurahan Teluk Pucung, Kota Bekasi, Lely Lydia (33), tak bisa pulang dari Maroko. Ia memohon pemerintah memfasilitasi kepulangannya ke Indonesia.
Lely, yang awalnya bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART), sudah tiga minggu berada di Shelter Kedutaan Besar (Kedubes) RI di Maroko. Ia memastikan kondisinya dalam keadaan aman di Kedubes RI. Namun, ia sangat ingin kembali berkumpul dengan keluarga, terutama anaknya yang masih balita.
“Saya sekarang di Shelter Kedubes Indonesia, karena saya waktu itu kabur dari agen saya,” katanya, Minggu (8/3).
Lely berangkat ke Maroko pada pertengahan Januari lalu. Awalnya, lowongan kerja yang ia dapat di media sosial menawarkan posisi pengasuh dengan gaji lebih dari Rp8 juta. Namun setibanya di sana, ia harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah.
Ia mulai merasa tidak nyaman saat menerima kekerasan verbal serta ditoyor kepalanya oleh majikan yang pertama. Hampir sebulan bekerja, gajinya pun tidak utuh karena dipotong agen penyalur.
Lepas dari tempat pertama bekerja sebagai ART, ia disalurkan ke tempat kerja baru. Hanya satu hari, setelahnya ia dikembalikan ke agen oleh majikan barunya.
Lely merasa tertekan saat agen penyalur menghubungi keluarganya meminta sejumlah uang serta melontarkan kata-kata kasar. Akhirnya, Lely memutuskan kabur ke Kedubes RI setelah dihubungi kakaknya di Bekasi.
“Di situ saya mulai terancam, agen sudah menelfon keluarga saya untuk minta uang, untuk tiket pulang, pokoknya diintimidasi dengan kata-kata yang menyakiti,” ucapnya.
Saat ini Lely belum mendapat kepastian pulang. Agen penyalur terkesan menghindar saat dihubungi, sementara kondisi keluarganya tidak memungkinkan untuk membekukan tiket pulang ke Indonesia.
“Sudah ditelpon agennya, cuma agennya itu kaya kabur-kaburan nggak mau bayar tiket, sedangkan ini kan sudah tiga minggu. Keluarga juga terus terang kan ekonomi tidak mampu jadi kita tidak bisa, tiket harganya itu hampir Rp11 juta,” ungkapnya.
Lely berharap pemerintah dapat membantu kepulangannya ke Indonesia agar bisa kembali berkumpul dengan anak dan keluarganya. Di Bekasi, Lely bersama orangtuanya tinggal di rumah kakaknya di Teluk Pucung.
“Saya berharap pemerintah bisa membantu rakyat Indonesia yang jauh di negeri orang,” tambahnya.
Kemarin, Lely telah berupaya berkomunikasi dengan salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bekasi. Langkah ini terinspirasi dari pemberitaan pemulangan warga Kota Bekasi dari Kamboja pada 2025. (sur)

22 hours ago
16
















































