Puasa Bukan Sekadar Lapar: Membangun Kesalehan Cilik Sejak Dini

14 hours ago 19

Beranda Ramadan Puasa Bukan Sekadar Lapar: Membangun Kesalehan Cilik Sejak Dini

Oleh: Didi Suradi, M.Pd. (Kaprodi PIAUD Institut Agama Islam Nusantara (IAIN) Bekasi)

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Bagi orang dewasa, ibadah di bulan Ramadan sering kali hanya dilihat sebagai ritual ibadah fisik. Menahan haus dan lapar, mengerjakan salat, atau tadarus Al-Qur’an. Namun, jika kita menengok ke dalam ruang-ruang kelas Taman Kanak-Kanak (TK), Ramadan sebenarnya adalah “laboratorium karakter” yang luar biasa. Di masa usia emas (golden age), anak-anak menggunakan seluruh pancainderanya untuk belajar. Bukan cuma meniru gerakan, mereka juga belajar membangun struktur kepribadian yang akan menjadi kompas hidup mereka di masa depan.

Dalam pengamatan saya di lapangan, pendidikan karakter yang dilakukan di Taman Kanak-Kanak (TK) tidak diajarkan melalui ceramah teoretis yang berat, melainkan melalui pembiasaan dan keteladanan guru, misalnya 5-S: Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun. Di bulan suci ini, nilai 5-S menjadi fondasi pengendalian diri yang nyata. Anak-anak belajar tetap tersenyum dan menyapa teman dan gurunya dengan ramah, meski rasa haus mulai dirasakan, di situlah benih kesabaran mulai berakar.

Hal lainnya yang diajarkan di TK adalah pembiasaan salat berjemaah dan menghafal Al-Qur’an. Ketika mereka berbaris rapi untuk salat berjemaah, mereka belajar tentang kepemimpinan dan ketaatan. Kemudian, saat bibir mungil mereka melantunkan hafalan Al-Qur’an, mereka tidak hanya mengasah daya ingat, tetapi juga mendekatkan batin dengan Sang Pencipta. Untuk menjaga agar anak-anak terus melakukan kebaikan ini secara berulang, maka guru perlu memberikan stimulus, misalnya dengan memberikan ucapan selamat, pujian, bahkan sekadar senyuman. Hal-hal seperti itu merupakan bentuk apresiasi bagi murid agar mereka merasa senang. Rasa senang inilah yang menjadi stimulus bagi mereka untuk mengulangi perbuatan baik tersebut. Inilah mengapa pembiasaan ibadah di sekolah bukan sekadar rutinitas, melainkan proses “mencetak” pola saraf perilaku yang positif.

Kesalehan lainnya yang diajarkan adalah pembiasaan berinfak. Ketika tangan-tangan kecil memasukkan uang receh ke kotak amal, mereka sedang menghancurkan sifat egoisme. Mereka belajar bahwa di dalam rezeki yang mereka miliki, ada hak orang lain. Inilah salah satu momen yang paling menyentuh. Secara psikologis, pembiasaan berinfak ini dapat melatih empati, sebuah kecerdasan sosial yang sering kali lebih menentukan kesuksesan hidup daripada sekadar nilai akademik.

Semua pembelajaran yang dilakukan tersebut sebenarnya dilakukan juga secara konsisten dalam keseharian di sekolah, tidak hanya dilakukan pada bulan Ramadan. Tetapi, pada momentum bulan suci ini semua yang dilakukan diperkuat oleh nilai-nilai spiritual yang ditanamkan oleh guru mereka sehingga anak-anak sejak usia dini sudah memahami keutamaan beribadah di bulan Ramadan. Mereka paham bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga perlu meningkatkan kualitas ibadah lainnya.

Ramadan perlu dijadikan momentum emas. Jangan sampai kita hanya sibuk mengajarkan anak “apa itu puasa”, tapi lupa mendidik “bagaimana bersikap” saat puasa. Jika 5S, pembiasaan salat berjemaah, menghafal Al-Qur’an, dan semangat berbagi sudah mendarah daging sejak TK, maka di masa depan mereka tidak hanya menjadi generasi yang cerdas secara intelektual, tapi juga cerdas secara moral dan spiritual.

Pepatah mengatakan bahwa mendidik anak usia dini seperti mengukir di atas batu. Artinya, pendidikan karakter yang dibentuk sekarang akan sulit terkikis di masa depan. Untuk itu dibutuhkan sinergi antara lingkungan sekolah dengan di rumah. Keteladanan guru di sekolah melalui pembiasaan ibadah dan akhlak mulia harus disambut hangat oleh orang tua di rumah. (*)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |