Beranda Bisnis Pahami dan Kenali Risiko Penyakit Glaukoma yang Menjadi Faktor Pemicu Kebutaan
Dokter mata subspesialis glaukoma, dr Zeiras Eka Djamal, SpM(K), menyampaikan paparan dalam diskusi pada rangkaian Pekan Glaukoma Sedunia 2026 di Jakarta, Selasa (10/3). FOTO: ZAKKY MUBAROK/RADAR BEKASI
RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Dokter mata subspesialis glaukoma, dr Zeiras Eka Djamal, SpM(K), mengingatkan masyarakat Indonesia untuk mewaspadai sejumlah faktor risiko yang dapat memicu penyakit glaukoma. Pasalnya, sebagian besar penderita tidak merasakan gejala yang jelas pada tahap awal.
Glaukoma merupakan gangguan pada saraf mata yang dapat menyebabkan penurunan fungsi penglihatan secara bertahap. Penyakit ini bersifat kronis dan permanen, biasanya dipicu oleh tekanan bola mata yang tinggi sehingga menyebabkan penyempitan lapang pandang hingga berpotensi menimbulkan kebutaan.
Hal itu disampaikan Zeiras dalam diskusi pada rangkaian Pekan Glaukoma Sedunia 2026 di Jakarta, Selasa (10/3). Dokter yang juga menjabat sebagai Kepala Klinik Mata di JEC Eye Hospitals and Clinics cabang Cinere itu menjelaskan, hingga kini belum terdapat langkah profilaksis khusus, baik berupa tindakan medis maupun perubahan gaya hidup, untuk mencegah glaukoma selain menjaga tekanan bola mata tetap terkontrol.
“Karena dia ada faktor genetik. Genetik itu kan nggak bisa kita kontrol. Kalau kita genetiknya punya kanker, risiko itu akan selalu ada,” jelasnya.
Meski demikian, ia menilai penerapan pola hidup sehat tetap penting dilakukan. Pasalnya, beberapa penyakit lain seperti diabetes dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan pada saraf mata.
“Yang mungkin bisa dijaga mungkin kembali gaya hidup sehat, karena kita tahu ada faktor risiko yang lain adalah diabetes,” ungkap Zeiras.
Ia menjelaskan, sebagian besar kasus glaukoma tidak menunjukkan gejala pada tahap awal sehingga sering kali baru diketahui ketika seseorang menjalani pemeriksaan kesehatan mata.
Diperkirakan sekitar 80 hingga 90 persen kasus glaukoma tidak terdeteksi, sementara lebih dari 3,6 juta orang di dunia mengalami kebutaan akibat penyakit tersebut.
Secara global, jumlah penderita glaukoma diperkirakan mencapai sekitar 76 juta orang pada 2020 dan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 111,8 juta pada 2040 seiring pertumbuhan populasi serta meningkatnya angka harapan hidup.
Sementara di Indonesia, prevalensi penyakit ini mencapai sekitar 0,46 persen atau sekitar 4 hingga 5 kasus per 1.000 penduduk berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 2023.
Karena itu, selain pemeriksaan mata secara rutin, masyarakat juga perlu memahami berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena glaukoma.
Selain faktor keturunan, usia juga menjadi salah satu pemicu utama karena penyakit ini lebih sering ditemukan pada individu berusia di atas 40 tahun.
Risiko lain juga meningkat pada penderita diabetes melitus serta individu yang sering menggunakan obat-obatan yang mengandung steroid.
Faktor tambahan lainnya antara lain kondisi mata dengan minus tinggi atau plus jauh, katarak, riwayat trauma pada mata, serta gangguan mata lainnya.
Oleh sebab itu, deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah kerusakan saraf optik yang lebih parah, mengingat kerusakan akibat glaukoma umumnya terjadi secara perlahan tanpa tanda-tanda yang jelas.
“Dengan diagnosis yang tepat serta pemantauan yang teratur, perkembangan penyakit dapat dikendalikan sehingga kualitas penglihatan pasien tetap terjaga,” pungkasnya. (cr1)

3 hours ago
9

















































