Beranda BUMN Menjaga Tradisi Sulam Kasab Aceh Bersama Holding Ultra Mikro BRI Group
RADARBEKASI.ID,KUALABARU- Di tengah modernisasi dan semakin masifnya produk hasil industri, kerajinan tradisional menghadapi tantangan untuk tetap bertahan. Proses pengerjaan yang memerlukan waktu panjang, keterampilan khusus, dan ketelitian membuat tidak semua orang bersedia meneruskan tradisi tersebut.
Namun, bagi sebagian orang, menjaga kerajinan tradisional bukan hanya tentang mempertahankan mata pencaharian. Ada warisan budaya, keterampilan lokal, dan identitas daerah yang perlu dikenalkan kepada generasi berikutnya.
Semangat itulah yang dijaga Asra, perempuan berusia 63 tahun asal Kuala Baru, Aceh. Sejak 1990, ia konsisten menekuni usaha sulam kasab, kerajinan khas yang dibuat dengan tangan melalui proses rumit dan membutuhkan kesabaran.
“Awalnya usaha ini berangkat dari budaya sulam benang kasab yang memang sudah menjadi tradisi di daerah kami. Karena proses pembuatannya cukup lama dan membutuhkan ketelitian, lambat laun banyak warga yang lebih memilih membeli sulam manik-manik kasab daripada membuatnya sendiri,” ujar Asra.
Melihat kebutuhan tersebut, Asra mulai menawarkan keahliannya dengan menerima pesanan dari rumah ke rumah. Keterampilan menyulam yang semula ia jalankan di sela aktivitas sebagai ibu rumah tangga kemudian berkembang menjadi usaha yang membantu perekonomian keluarga.
Usaha yang awalnya hanya melayani pesanan masyarakat sekitar itu terus berkembang. Kini, hasil sulam manik-manik kasab buatan Asra telah dipasarkan ke berbagai daerah di seluruh Aceh.
Sulam manik-manik kasab memiliki proses pengerjaan yang tidak sederhana. Setiap produk dibuat dengan tangan dan membutuhkan keterampilan khusus. Tarikan benang harus dilakukan dengan hati-hati agar pola yang dihasilkan terlihat rapi.
Pengerjaannya juga tidak dapat diselesaikan secara terburu-buru. Ketelitian dan kesabaran menjadi bagian penting karena kesalahan pada satu bagian dapat memengaruhi keseluruhan hasil kerajinan.
“Keunikan usaha ini ada pada proses pembuatannya yang cukup rumit. Setiap tarikan benang membutuhkan ketelitian dan kesabaran ekstra. Tidak bisa dikerjakan terburu-buru karena setiap bagian harus dibuat dengan hati-hati supaya hasilnya rapi dan bagus,” jelasnya.
Perjalanan panjang usaha Asra sempat menghadapi kendala permodalan. Pada 2020, ia bergabung menjadi nasabah PNM Mekaar untuk memperoleh tambahan modal yang dibutuhkan dalam menjalankan dan mengembangkan usahanya.
Pembiayaan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan produksi, termasuk membeli bahan dalam jumlah lebih banyak. Dengan ketersediaan modal yang lebih memadai, Asra dapat meningkatkan kapasitas produksi dan menerima lebih banyak pesanan.
“Alhamdulillah, tambahan modal tersebut membantu saya untuk tetap menjalankan usaha dan memenuhi kebutuhan produksi,” katanya.
Selain pembiayaan, Asra mendapatkan pendampingan berupa pelatihan mengenai benang kasab yang diselenggarakan di Kuala Baru. Pelatihan tersebut menambah pengetahuan dan keterampilannya dalam mengelola usaha kerajinan.
Seiring meningkatnya kapasitas produksi, dampak usaha turut dirasakan oleh masyarakat sekitar. Asra dapat membuka kesempatan kerja sehingga warga lain memperoleh tambahan penghasilan dari kegiatan produksi sulam manik-manik kasab.
Usaha yang mulanya dibangun untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga kini memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas. Pada saat yang sama, keberadaan para perajin turut membantu menjaga keterampilan menyulam agar tetap hidup di tengah masyarakat Kuala Baru.
Kisah Asra menggambarkan bagaimana akses pembiayaan yang disertai pemberdayaan dapat memberikan dampak lebih luas bagi pelaku usaha ultra mikro. Upaya tersebut sejalan dengan semangat Holding Ultra Mikro (UMi) yang mengintegrasikan kekuatan BRI sebagai induk holding bersama Pegadaian dan PNM. Sejak dibentuk pada 2021, Holding UMi dirancang untuk memperluas dan memperdalam akses layanan keuangan bagi masyarakat, khususnya segmen ultra mikro, melalui ekosistem yang menggabungkan pembiayaan, simpanan, transaksi, hingga pemberdayaan dan pendampingan usaha.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan bahwa pemberdayaan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ultra mikro yang berkelanjutan.
“Melalui Holding Ultra Mikro, kami ingin memastikan bahwa akses keuangan menjadi pintu masuk menuju pemberdayaan yang lebih luas. Pelaku usaha seperti Ibu Asra menunjukkan bahwa ketika akses pembiayaan dipadukan dengan pendampingan dan semangat untuk terus berkembang, usaha ultra mikro dapat memberikan manfaat yang jauh melampaui pemilik usahanya sendiri,” ujar Dhanny.
Bagi Asra, dukungan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya mempertahankan sulam kasab selama lebih dari tiga dekade. Di tengah perubahan zaman, setiap karya yang dihasilkan bukan hanya menjadi sumber penghidupan bagi keluarga dan masyarakat sekitar, tetapi juga menjaga keterampilan tradisional Aceh agar tetap hidup dan dapat terus dikenal oleh generasi berikutnya. (*)

4 hours ago
8















































