Beranda Ramadan Larangan Puasa Ramadan Pernah Terjadi di 3 Negara Ini, Kenapa?
Ilustrasi buka puasa. Foto: freepik
RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Bulan Ramadan identik dengan suasana religius yang khusyuk serta kebersamaan yang hangat di tengah masyarakat Muslim di seluruh dunia. Di banyak negara, Ramadan bahkan menjadi momen paling dinanti setiap tahunnya.
Namun dalam perjalanan sejarah, tidak semua pemerintahan memberi kebebasan penuh bagi warganya untuk menjalankan ibadah puasa.
Beragam faktor melatarbelakangi kebijakan pembatasan tersebut, mulai dari persoalan politik, konflik etnis, isu keamanan nasional, hingga alasan kesehatan dan ketertiban umum.
Kebijakan-kebijakan ini kerap memicu kontroversi dan menuai kritik dari komunitas internasional serta organisasi hak asasi manusia. Berikut tiga negara yang pernah tercatat membatasi atau melarang puasa Ramadan pada periode tertentu.
1. China
Pada 2015, pemerintah China dilaporkan membatasi praktik puasa Ramadan bagi pegawai negeri, pelajar, dan guru Muslim di wilayah Xinjiang. Wilayah ini dikenal sebagai daerah dengan populasi Muslim Uighur yang signifikan.
Kebijakan tersebut muncul di tengah ketegangan panjang antara pemerintah pusat dan etnis Uighur, yang selama bertahun-tahun diwarnai isu separatisme dan keamanan.
Sejumlah laporan media internasional menyebut adanya pengumuman resmi yang meminta restoran tetap buka pada siang hari selama Ramadan. Bahkan, beberapa pelaku usaha disebut tidak diperkenankan menghentikan operasionalnya.
Baca Juga: 5 Rahasia Tidur Nyenyak Selama Puasa Ramadan, Wajib Dicoba!
Pemerintah China menyatakan kebijakan itu berkaitan dengan upaya mencegah ekstremisme dan menjaga stabilitas keamanan. Namun langkah tersebut menuai kritik dari berbagai organisasi hak asasi manusia yang menilai pembatasan itu sebagai bentuk pelanggaran kebebasan beragama.
2. Myanmar
Situasi berbeda terjadi di Myanmar, khususnya di negara bagian Rakhine. Konflik antara pemerintah dan etnis Rohingya yang memuncak pada 2012 berdampak besar terhadap kebebasan beragama komunitas Muslim di wilayah tersebut.
Berbagai laporan media menyebutkan adanya pembatasan aktivitas ibadah selama Ramadan, termasuk larangan berkumpul di masjid. Beberapa masjid dilaporkan disegel, sementara aparat keamanan memperingatkan akan mengambil tindakan terhadap warga yang tetap beribadah secara berjamaah.
Organisasi seperti Human Rights Watch menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk penganiayaan yang mendapat dukungan negara. Selain pembatasan puasa, warga Rohingya juga dilaporkan mengalami hambatan dalam melaksanakan Salat Idul Fitri.
Kebijakan ini semakin mempertegas situasi sulit yang dihadapi komunitas Rohingya di tengah konflik berkepanjangan.
3. Inggris
Berbeda dengan dua negara sebelumnya yang berkaitan dengan konflik etnis dan politik, kasus di Inggris terjadi dalam lingkup kebijakan pendidikan. Sejumlah sekolah dasar di London pernah dilaporkan tidak mengizinkan murid Muslim berpuasa selama Ramadan.
Menurut laporan media, pihak sekolah mengirimkan surat kepada orang tua murid yang menyampaikan kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan siswa.
Saat itu, Ramadan berlangsung pada musim panas dengan durasi siang hari yang cukup panjang. Aktivitas belajar mengajar serta kegiatan ekstrakurikuler tetap berjalan normal, sehingga pihak sekolah menganggap pembatasan tersebut sebagai langkah perlindungan.
Baca Juga: Lemas Saat Puasa Ramadan? Simak Penyebab, Solusi, dan Menu Sahur Agar Energi Terjaga
Kebijakan itu memicu respons dari komunitas Muslim setempat, termasuk organisasi masyarakat yang menilai bahwa Islam telah memiliki aturan jelas terkait kewajiban puasa bagi anak-anak dan remaja.
Pihak sekolah sendiri menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil demi menjaga kesejahteraan siswa, sambil tetap mengakui pentingnya Ramadan bagi umat Islam. (ce2)

19 hours ago
14

















































