Ini Bahaya Merokok Saat Berbuka Puasa, Risiko Gastritis hingga Keracunan Nikotin

16 hours ago 13

Beranda Lifestyle Kesehatan Ini Bahaya Merokok Saat Berbuka Puasa, Risiko Gastritis hingga Keracunan Nikotin

Efek Merokok Saat Berbuka Puasa. Foto: Freepik

RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Berbuka puasa identik dengan mengonsumsi makanan dan minuman manis untuk mengembalikan energi setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Namun, tak sedikit orang yang justru memilih langsung menyalakan rokok begitu azan Magrib berkumandang.

Kebiasaan ini ternyata menyimpan risiko kesehatan yang tidak bisa dianggap sepele. Merokok dalam kondisi perut kosong setelah berpuasa seharian dapat memberikan dampak yang lebih buruk dibandingkan merokok dalam kondisi normal.

Saat berpuasa, tubuh berada dalam kondisi kosong tanpa asupan makanan dan minuman selama berjam-jam. Ketika rokok langsung dihisap, kandungan nikotin akan lebih cepat terserap ke dalam aliran darah dan langsung memengaruhi otak.

Nikotin dalam jumlah tinggi saat perut kosong dapat memicu berbagai keluhan, seperti:

  • Mual
  • Pusing
  • Sakit kepala
  • Jantung berdebar

Tak hanya itu, kandungan karbon monoksida dalam rokok juga dapat meningkatkan kadar zat tersebut di dalam darah. Jika berlebihan, kondisi ini berisiko menyebabkan gejala keracunan ringan seperti lemas, pusing hebat, hingga gangguan konsentrasi.

Selain berdampak pada sistem saraf dan peredaran darah, kebiasaan merokok saat berbuka juga dapat memengaruhi kesehatan lambung. Dalam kondisi kosong, dinding lambung lebih rentan mengalami iritasi.

Dokter Erlang, seperti dikutip dari DetikHealth, menjelaskan bahwa merokok saat perut kosong dapat memicu peradangan lambung atau gastritis.

Baca Juga: Tips Ngopi Saat Ramadan Tanpa Ganggu Puasa dan Pola Tidur

“Saat perut kosong, rokok efeknya salah satunya ke lambung, jadi dia akan mengalami gastritis atau peradangan lambung kalau dia merokok,” jelas dr Erlang.

Nikotin diketahui dapat merangsang produksi asam lambung. Jika tidak ada makanan yang melapisi lambung, asam tersebut dapat mengiritasi dinding lambung dan menimbulkan nyeri atau rasa perih di ulu hati.

Untuk menghindari risiko tersebut, sebaiknya berbuka puasa diawali dengan makanan atau minuman manis terlebih dahulu, seperti kurma, buah-buahan, atau teh manis hangat. Asupan ini membantu menstabilkan kadar gula darah dan mempersiapkan sistem pencernaan sebelum menerima makanan berat.

Mengalihkan kebiasaan merokok dengan mengonsumsi buah segar atau camilan sehat saat berbuka bisa menjadi langkah awal yang lebih baik bagi kesehatan.

Selain mengurangi risiko gangguan lambung, cara ini juga membantu tubuh beradaptasi secara perlahan setelah seharian berpuasa.

Momentum Ramadan pun dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk mengurangi, bahkan berhenti merokok demi kesehatan jangka panjang. (ce2)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |